INILAH.COM, Jakarta Negara-negara Kelompok 20 (G-20) akan menggelar Konperensi Tingkat Tinggi di Washington, AS, 15 November nanti. Agenda utamanya, mencari solusi terbaik menghadapi dan mengatasi krisis keuangan dunia.
Banyak pihak berharap KTT Washington dapat menghasilkan keputusan konkret. Misalnya, langkah konkret apa yang harus dilakukan negara-negara di seluruh dunia, termasuk mereka yang selama ini menganggap diri sebagai adidaya, untuk menyelamatkan dunia dari multi krisis.
Hanya saja ada kekhawatiran, KTT tidak lebih dari sekadar pertemuan seremonial. Kekhawatiran itu cukup beralasan. KTT G-20 baru kali ini berlangsung. Aturan main yang baku belum ada. Penyelenggaraan KTT juga berlangsung pada situasi yang tidak kondusif.
Saat KTT berlangsung, tuan rumah AS baru saja menggelar Pemilihan Presiden. Kalau John McCain yang menang, dia mungkin belum siap beraksi. Sekalipun dia berasal dari partai yang sama dengan presiden sekarang (Republik), secara de jure dia baru bisa mengambil keputusan setelah serah terima jabatan dan pelantikan Januari 2009.
Bila Barrack Obama (Demokrat) yang menang, bukan berarti semua jalan mulud. Diapun pasti masih disibukkan persiapan peralihan kekuasaan.
Bagi rakyat AS, pasca pemilihan presiden pasti ada suasana baru. Yang menang mungkin sedang berada dalam suasana euforia. Mereka tidak lagi peduli pada krisis keuangan yang melilit dunia. Sementara bagi yang kalah, besar kemungkinan kepedulian mereka terhadap krisis, lain lagi. Singkatnya, saat KTT itu digelar, publik AS dan Gedung Putih sedang 'terbelah' oleh hasil Pemilihan Presiden.
Internal G-20 sendiri setidak-tidaknya terbelah beberapa faksi. Ada faksi G-7, G-8, dan G-12. Kelompok negara-negara industri mula-mula membentuk G-7 yang terdiri atas Kanada, AS, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis dan Italia.
Secara berkala G-7 melakukan pertemuan. Pada awalnya cuma di tingkat kepala pemerintahan. Lama-kelamaan mulai mengerucut ke bawah, ada pertemuan tingkat menteri, gubernur bank sentral dan seterusnya.
Tatkala Rusia menjadi satu kekuatan baru sebagai negara industri di pertengahan tahun 1990-an, negara ini kemudian dirangkul oleh tujuh negara industri di atas. Jadilah G-7 berubah menjadi G-8. Dunia pun seolah dibelah menjadi kelompok negara industri, negara relatif maju, dan negara miskin.
Belakangan, AS yang dipimpin George Bush banyak berselisih dengan (mantan) Presiden Rusia, Vladimir Putin. Perselisihan Bush-Putin akhirnya memengaruhi solidaritas di antara G-8. Bush selalu berusaha mengucilkan Rusia. Terakhir Putin sudah lengser, tetapi ketika perang saudara di Georgia pecah, AS dan Rusia berseberangan.
Perbedaan ini membuat Bush tidak setuju Rusia ikut terlibat satu meja dengan semua anggota G-8. Jika di KTT G-20 Rusia hadir, kehadiran itu hanya karena tak bisa dibendung Bush. Jadi terlihat betapa rentannya kesatuan di dalam G-8.
Selain masalah di atas, G-20 juga diganggu oleh tekad Uni Eropa. Begitu krisis keuangan AS merembet ke Eropa, Presiden Prancis Nikolas Sarkozy secara tersirat menyalahkan AS. "Kapitalisme yang ada sekarang ini, bukanlah kapitalisme yang kita kehendaki", katanya. Pasar bebas yang getol dipaksakan AS merupakan bagian dari konsep kapitalisme.
Artinya, jauh-jauh hari Prancis yang napas sosialismenya sangat kuat, sudah membuka front terhadap AS. Dengan alasan tersebut, Sarkozy ingin mengubah sistem transaksi keuangan internasional. Konsep ini sudah disepakati di KTT Asem, Beijing pekan lalu.
Maka menjadi pertanyaan, jika mayoritas peserta apriori terhadap AS, apakah hal tersebut tidak merusak suasana KTT? Lantas 12 negara lainnya seperti China, India dan Brasil, bukanlah negara yang bisa disebut sejalan apalagi sekutu AS. Ketiga negara ini bahkan merupakan negara-negara yang terus diawasi oleh AS. Ketidakakraban ini, suka tidak suka, bakal mempengaruhi kesamaan visi di antara sesama anggota G-20.
Masalah posisi Presiden AS, termasuk soal yang tidak bisa dianggap sepele. Presiden Bush yang sudah kehilangan legitimasi, sebagai tuan rumah mestinya punya akuntabilitas. Namun siapapun tahu bahwa kepercayaan masyarakat internasional terhadap Bush sudah merosot drastis.
Sementara itu belum jelas pula apakah Presiden AS yang baru terpilih akan ikut hadir dalam KTT. Jika hadir, akankah ia berperan aktif dan suaranya didengar? Juga belum dapat dipastikan apakah Presiden terpilih itu sudah memiliki konsep yang sesuai dengan keinginan mayoritas peserta KTT. Jangan-jangan kalau presiden baru itu hadir, ia pun hanya ingin menebar pesona.
Itu sebabnya lebih aman bagi kita yang tidak masuk dalam G-20 untuk tidak berharap banyak dari KTT Washington, kecuali mukjizat. [I4]