inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Pamor SBY Tersangkut Aulia Pohan

Headline
Susilo Bambang Yudhoyono - Inilah.com/Abdul Rauf
Oleh: Anton Aliabbas
Kamis, 30 Oktober 2008 | 07:31 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Besan Presiden SBY, Aulia Pohan, resmi menyandang status tersangka kasus aliran dana BI. Penetapan status mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini melewati jalan panjang dan berliku. Akankah citra SBY makin bersinar atau malah meredup karena lambatnya penanganan Aulia?

Penetapan status Aulia bukanlah hal mudah bagi KPK. Berkali-kali lembaga pimpinan Antasari Azhar itu memeriksa mertua Agus Harimurti Yudhoyono. Namun, posisi Aulia tetap sebagai saksi kasus BI. Besan SBY ini pun baru 'sah' menjadi tersangka setelah mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah divonis 5 tahun penjara.

"KPK telah menetapkan Aulia Pohan, Aslim Tadjuddin, Maman Sumantri, Bun Bunan Hutapea sebagai tersangka," kata Antasari di Gedung KPK, Jakarta, Rabu kemarin.

Aulia rencananya akan diperiksa pada 3 November mendatang. KPK berdalih penetapan ini berdasarkan hasil evaluasi, penyidikan, fakta persidangan, dan putusan terhadap Burhanuddin Abdullah.

"Sikap KPK ini diambil secara profesional, bukan karena adanya keinginan berbagai pihak dan tekanan berbagai pihak," urai Antasari.

Ketegasan sikap KPK ini seakan menjawab lampu hijau yang diberikan SBY pada 24 September lalu. Saat itu, SBY berjanji tidak akan melindungi anggota keluarga atau kerabatnya yang bermasalah dengan kasus korupsi.

"Saya persilakan. Saya tidak memberi contoh untuk tidak akan menghalang-halangi siapa pun untuk menjalani pemeriksaan atau proses hukum kalau itu menyangkut katakanlah kedekatan dalam keluarga, pemerintahan, perkawanan dan sebagainya," kata SBY.

Sebagian pihak merespon positif langkah KPK. Tidak hanya itu, citra SBY diprediksi meroket karena perubahan status ini.

"Ini adalah tanda yang nyata bahwa penegakkan hukum berjalan makin baik. Tidak ada diskriminasi dan tidak ada pihak manapun yang kebal hukum," cetus Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Senada dengan Anas, Sekjen DPP PPP Irgan Chairul Mahfiz melihat pamor dan popularitas SBY akan makin moncer dengan adanya keputusan KPK ini.

"Itu jelas membuktikan komitmen beliau (SBY) terhadap pemberantasan korupsi," ucapnya.

Sementara Sekjen DPP PDIP Pramono Anung menanggapi dingin status tersangka Aulia. Seharusnya, menurut Pramono, predikat tersebut dilakukan sejak awal.

"Dan itu kan kasusnya udah lama. Semestinya didakwa sebagai tersangka harus dilakukan sebelum-sebelumnya," nilai Pramono kepada INILAH.COM.

Pram mewanti-wanti masalah ini tidak ditarik ke ranah politik. "Biar saja diproses sebagaimana mestinya," pinta dia.

SBY sendiri mendengar besannya menjadi tersangka mengaku sedih. Ia bahkan sampai harus menenangkan keluarga besar Aulia. "Dalam kapasitas saya sebagai pribadi, pribadi Susilo Bmbang Yudhoyono, mendengar semua ini, tentu saya secara terus terang dan jujur, bersedih," jawab SBY.

Meski bersedih, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini meminta hukum dan keadilan ditegakkan. Dirinya memercayai penuh segala proses hukum yang akan diambil terhadap Aulia.

"Kalau Pak Aulia Pohan bersama-sama yang lain dianggap melakukan kesalahan dalam konteks ini, tentu proses penegakkan hukum ditegakkan. Saya tidak boleh mengintervensi atau mencampuri karena ini semangat kita semua," janji SBY.

Penetapan kasus Aulia yang cukup berlarut ini memang memiliki dua sisi. Sisi baiknya, ini bisa digunakan untuk kian memoles citra SBY. Ia dapat disebut sebagai pemimpin pemerintahan yang tanpa tendeng aling memberantas korupsi.

Tetapi sisi buruknya, lamanya proses penetapan tersangka Aulia ini juga dapat menjatuhkan pamor SBY sendiri. Kedekatan hubungan kekerabatan dapat dianggap telah membuat KPK ragu dalam melangkah. Sebab, dalam kenyataannya, KPK sampai harus menunggu adanya vonis terhadap Burhanuddin. Padahal, sejatinya, status tersangka itu sudah dapat ditempelkan kepada Aulia saat maraknya tekanan publik ataupun tidak lama berselang setelah penahanan Burhanuddin.

Artinya, dua sisi ini dapat muncul bersamaan. Bila itu terjadi maka pamor SBY akan tergantung kekuatan tekanan politik yang berkembang. Apakah Partai Demokrat beserta pendukungnya memaksimalkan sisi baik atau kelompok oposisi maupun kompetitor SBY yang lebih menguasai pencitraan negatif dari kasus Aulia ini? Dan tentu saja isu ini adalah makanan empuk politisi untuk menghangatkan suasana menyambut pesta demokrasi.[L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.