INILAH.COM, Jakarta - Skandal dosen mesum NS di kampus UI, merupakan bukti dari rangkaian tindakan kekerasan seksual yang memalukan dan mencoreng lembaga pendidikan. NS sebagai dosen yang mempunyai power memanfaatkan korban yang bersikap diam, dan akhirnya semakin binal.
"Kebanyakan, kekerasan seksual selalu diawali dari penguasaan atas korban. Apalagi sebagai dosen, NS tentu mempunyai power kepada mahasiswinya yang menjadi korban, dan salahnya korban tidak mempunyai sikap, seharusnya jangan diam, tapi harus segera langsung melapor," kata ahli kriminologi UI Purniati Simangunsong, kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (30/10).
Purniati juga menambahkan, bahwa fenomena tersebut lazim dalam dunia pendidikan, apalagi dunia kampus. Karena, tiap mahasiswi pasti mempunyai dosen pembimbing, untuk melakukan konsultasi dalam proses belajar mengajar.
"Di dunia kampus memang lazim ada dosen yang dekat dengan para mahasiswinya, tetapi dalam konteks bimbingan. Namun memang terkadang, ada saja mahasiswi yang nakal, karena malas membuat skripsi atau supaya mendapatkan nilai, akhirnya melakukan kompensasi seksual kepada dosennya," ujarnya
Purniati juga menyayangkan sikap korban yang mendukung tindakan yang dilakukan NS (tidak segera melaporkan, misalnya pelecehan). Karena, dalam konteks ini NS murni melakukan tindakan kriminal yang tidak bisa dibiarkan.
"Untuk itu bagi para mahasiswi, harus mengantisipasi terjadinya, tindak kekerasan seksual, dengan cepat langsung melaporkan ke pada aparat yang berwenang, tentunya NS sebagai dosen harus diberikan sanksi administratif terkait perbuatannya yang melanggar hukum," tegasnya.[nng]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !