INILAH.COM, Surabaya - Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Salahuddin Wahid mengusulkan adanya lembaga survei yang mengukur pengaruh para ulama dan kiai di setiap pemilihan kepala daerah. Sebab, pengaruh kiai dinilainya tidak sekuat dulu.
"Pilgub (pemilihan gubernur) Jawa Timur ini menjadi ukuran apakah betul kiai itu sekuat kemarin pengaruhnya. Saya sendiri juga tidak bisa mengukur," kata Gus Solah, usai menjadi pembicara di 'Dialog Kebangsaan di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (Stikom) Surabaya, Kamis (30/10).
Menurut mantan Wakil Ketua Komnas HAM itu, perlu adanya lembaga survei untuk melihat seberapa besar pengaruh ulama dan kiai pada saat pilkada saat ini. Baik pemilihan gubernur (Pilgub), pemilihan bupati (Pilbup), dan pemilihan wali kota (Pilwali).
Namun, pada Pilgub Jatim putaran kedua yang akan dilaksanakan 4 November mendatang, banyak kiai telah memberikan dukungan kepada masing-masing pasangan cagub. Padahal, kedua pasangan kandidat sama-sama warga Nahdliyin.
"Kita lihat dukungan kiai Idris Marzuki di Kediri (Pengasuh Ponpes Lirboyo) ke pasangan Cagub Karsa (Soekarwo-Syaifullah Yusuf) nantinya menang atau tidak. Terus bagaimana dengan daerah lain seperti Situbondo," kata adik kandung Abdurrahman Wahid ini.
Ia menyebut perpecahan di kalangan kiai itu menunjukkan ketidakmampuan dari tokoh-tokoh NU untuk berkomunikasi. "Itu juga termasuk Gus Dur," tegasnya. [*/Nuz]