inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Obama, Angin Segar Indonesia

Headline
Barack Obama - istimewa
Oleh: Zulfirman
Jumat, 31 Oktober 2008 | 15:16 WIB
INILAH.COM, Washington Angin segar akan berhembus ke Indonesia jika saja Barack Obama memenangkan Pemilu AS. Kerja sama AS-Indonesia keamanan bakal diperluas, tak hanya sekadar melawan terorisme, melainkan juga keamanan maritim.
Obama memang memiliki hubungan emosional dengan Indonesia. Dia pernah tinggal dan sekolah di Jakarta. Senator Illionis itu pun memiliki adik tiri berdarah Indonesia. Kawan-kawannya masa sekolahan pun masih banyak di sini.
Jika Obama terpilih sebagai Presiden AS, hubungan dengan Indonesia tak lagi dalam tataran personal. Obama diyakini akan mempererat hubungan politik, termasuk politik keamanan dengan Indonesia.
Setidaknya, begitulah keinginan yang disuarakan Frank Jannuzi, penasihat senior kampanye Obama untuk urusan Asia. Januzzi berjanji akan menyarankan Obama untuk memperluas hubungan mesra AS dengan negara-negara Asia. Jika selama ini AS sangat dekat dengan Jepang, Australia, Filipina, Thailand, dan Singapura, di era Obama hubungan itu diperluas dengan negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Malaysia.
Secara khusus, Jannuzi menyebut hubungan AS-Indonesia bisa jadi lebih mesra. Sebagai negara terbesar di wilayah Asia Tenggara sekaligus negara Muslim terbesar di dunia, kerja sama AS-Indonesia bakal lebih luas ketimbang perang terhadap terorisme. Jannuzi menyebut kerja sama keamanan di wilayah maritim salah satunya.
"Pemerintahan Obama akan lebih fokus terhadap ASEAN karena ASEAN wilayah dengan 500 juta jiwa penduduk. (ASEAN) adalah bagian vital dunia yang kadang-kadang terlupakan. Biasanya kami memandang dari sudut sempit antiterorisme saja," ujar Jannuzi.
Jannuzi tak keliru. Di era pemerintahan George W Bush, hubungan politik keamanan AS dan Indonesia lebih terpusat pada antiterorisme. Pemerintahan AS bahkan menyediakan anggaran khusus yang disumbangkan untuk memberantas terorisme yang ada di Indonesia.
Menurut Jannuzi, kecuali kerja sama keamanan maritim, dia juga akan mengajukan perluasan kerja sama. Dia menyebut bakal ada peningkatan hubungan ekonomi, pemerintahan yang bersih, pembangunan ketahanan ekonomi, dan proteksi hutan.
Tak hanya terhadap Indonesia, Bush kadang-kadang juga terlihat memicingkan mata terhadap ASEAN. Salah satu buktinya, AS menolak ikut serta dalam pertemuan 16 negara yang digagas ASEAN.
Pertemuan itu sendiri dihadiri pemimpin dari 10 negara ASEAN, Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Selain itu, juga Australia, China, India, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan.
AS akhirnya memutuskan tak mengundang AS karena negara Paman Sam itu menolak menandatangani Traktat Kerja Sama dan Hubungan Baik (TAC). Traktat itu adalah sebuah pakta non-agresi yang harus diratifikasi sebagai salah satu kewajiban agar bisa mengikuti pertemuan pemimpin negara-negara ASEAN.
Jannuzi, anggota panel hubungan luar negeri khusus Asia Timur di Senat AS yang dipimpin Joseph Biden, menyatakan akan mendesak pemerintahan Obama menandatangani TAC dan berpartisipasi pada pertemuan itu. "Entahlah, apakah Senator Obama sebagai presiden akan melakukannya. Tapi, itulah rekomendasi pribadi saya," katanya.
Sikap serupa pun disuarakan Robert Gelbard, penasihat Obama lainnya. Dia akan mendorong AS mengikuti pertemuan Asia Timur itu. Dia menyesalkan pemerintahan Bush mengabaikan upaya Asia membangun semacam arsitektur regional dalam dekade terakhir ini.
"Kami meninggalkan wilayah itu terbuka lebar untuk China dan Rusia karena (mereka) langsung maju," katanya belum lama ini.
Menurutnya, AS mestinya bersedia menandatangani TAC dengan syarat. "Kami harus memastikan isu keamanan yang jadi fundamental kami, termasuk masalah nuklir," tegasnya.
Dalam hal ini, AS layak belajar dari Australia, sahabat setia mereka di wilayah Pasifik. Australia menandatanganinya pada 2005 dengan syarat bahwa hal itu tak mempengaruhi komitmen perjanjian bilateral dan multilateral. AS kini jadi satu-satunya negara besar yang menolak menandatangani TAC yang melarang menggunakan kekerasan untuk mengatasi konflik di wilayah ini.
Tak mau kalah dengan kubu Obama, pihak rivalnya John McCain pun menyatakan hal yang sama. Michael Green, penasihat McCain untuk urusan Asia, mengindikasikan pemerintahan McCain akan terbuka terhadap kerja sama pada pertemuan Asia Timur itu. McCain sendiri sejak awal sudah menyatakan keinginannya mempererat hubungan AS dengan Asia, terutama dengan Jepang dan Korsel. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.