Minggu, 27 Mei 2012 | 04:00 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Jangan Gegabah Turunkan BBM
Headline
Jusuf Kalla - Inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Ahmad Munjin
web - Jumat, 31 Oktober 2008 | 20:47 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Harga minyak sudah di level US$ 65 per barel, namun tidak otomatis bisa menurunkan harga BBM. Pasalnya, subsidi pemerintah sudah habis. Kebijakan itu baru bisa diterapkan pada 2009 sambil melihat perkembangan harga minyak.
Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan apabila harga minyak dunia rata-rata berada di bawah US$ 80 per barel pada 2009 maka harga BBM dalam negeri kemungkinan bisa diturunkan.
"Subsidi kita berdasarkan patokan US$ 80. Jika tahun depan rata-rata harga minyak dunia di bawah US$ 80, pasti (harga BBM) bisa diturunkan," kata Wapres Jusuf Kalla seusai sholat Jumat di Jakarta.
Di 2008, dana subsidi BBM yang dianggarakan dalam APBN sebesar Rp 128 triliun dan seluruhnya sudah digunakan. Karena itu akan dikaji dulu apakah masih memungkinkan dilakukan penurunan harga BBM..
Wapres memaparkan, harga BBM jenis premium saat ini masih harus disubsidi sebesar Rp 1.000 per liter. Sedangkan untuk minyak tanah, subsidi yang diberikan mencapai Rp 4.000. Begitupun harga solar juga masih disubsidi.
Ekonom Umar Juoro menilai subsidi pemerintah masih besar meskipun harga BBM dinaikkan. Kalaupun ada selisih subsidi lebih baik digunakan untuk program lain yang lebih tepat sasaran untuk membantu memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah. "Sebaiknya harga BBM jangan diturunkan terlebih dahulu," paparnya.
Chairman Center for Information and Development Studies (CIDES) itu menjelaskan, jika harga BBM bersubsidi turun memang sudah otomatis akan menurunkan inflasi. Tapi permasalahannya, kalau harga BBM diturunkan, subsidi pemerintah juga masih besar.
"Kalaupun ada selisih dana subsidi karena harga minyak mentah sudah turun alangkah lebih baiknya digunakan untuk program lain. Terutama untuk membantu masyarakat berpendapatan rendah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantor mengatakan peluang untuk BBM turun sudah tidak ada karena subsidi BBM hingga Oktober sudah habis Rp 130 triliun melebihi pagu APBN Perubahan 2008 yang hanya Rp 126 triliun.
"Pagu subsidi bisa lebih rendah dari APBN, jika harga minyak Indonesia US$ 40 per barel selama November-Desember 2008," papar Purnomo. Pemerintah akan menurunkan harga BBM bersubsidi setelah harga pertamax atau premium nonsubsidi berada di bawah harga subsidi yakni Rp 6.000 per liter.
Namun, menurut dia, saat ini, harga pertamax belum di bawah premium bersubsidi. Itu baru terjadi kalau harga ICP (minyak mentah Indonesia) sudah di bawah US$ 70 per barel. "Saat ini, harga ICP masih US$ 71,77 per barel," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.