Setelah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumumkan kader partai untuk digodok dalam pencapresan pemilu 2009 menuai kritik banyak pihak. Dalam pengumuman yang disampaikan, nama capres dari PKS semuanya adalah kader-kader terbaik partai seperti Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring maupun Anis Matta.
Sejumlah kalangan menilai nama-nama yang diusung PKS tidak memiliki nilai jual dalam pemilu 2009. Bahkan sejumlah partai besar bisa dikatakan meremehkan nama-nama tersebut karena dalam poling-poling yang dilakukan, hanya nama Hidayat Nurwahid yang cukup mendapatkan suara.
Saat publik banyak cekoki oleh nama-nama seperti Prabowo Subianto, Wiranto, Megawati Soekarnoputri, Sultan HB X, Susilo Bambang Yudhoyono, Sutrisno Bachir, dan nama-nama lain yang terkenal dengan iklan politiknya, kini PKS dengan percaya diri mengusung kader-kader partainya sendiri.
Namun demikian, pasti ada sesuatu di balik pencapresan yang dilakukan oleh PKS. Dengan mencapreskan kadernya sendiri, PKS berhadap terjadi soliditas di internal parpol. Kader-kader yang berjuang di partai, berpeluang meniti karir politik di partai, karena partai mengusung kader-kadernya sendiri. Soliditas ini sangat penting di tengah-tengah banyak partai yang saling jegal dan pecah gara-gara pengumuman Daftar Calon Sementara (DCS) maupun gara-gara berbeda pandangan tentang sosok capres partai.
Soliditas merupakan modal yang sangat penting dalam membangun sebuah partai politik. Dengan modal yang kuat, maka diyakini dalam pemilu 2009, PKS akan lebih berkonsentrasi mendulang suara untuk menduduki kursi di parlemen. Penguatan kursi di parlemen akan menguntungkan partai, karena posisi tawar partai akan menjadi kuat mengingat pemilu pilpres telah mengetok palu untuk dukungan 25 persen kursi parlemen untuk pencapresan.
Dengan mencalonkan tokoh-tokoh yang kurang dikenal masyarakat, bisa jadi PKS memang tidak berminat untuk ikut dalam perebutan tampuk kekuasaan Presiden dan wakil presiden. Tapi dengan penguatan suara parlemen dan peluang koalisi dengan partai lain, maka posisi tawar PKS akan menjadi tinggi.
Mungkin saja, PKS akan melepas posisi presiden atau wakil presiden namun akan menguasai parlemen dan dengan posisi tawar yang tinggi, bisa jadi akan mendapatkan kursi menteri yang banyak.
Sementara itu, untuk posisi presiden dan wakil presiden, akan menjadi prioritas pada pemilu 2014. Dengan penguatan kader yang solid, penguasaan parlemen dan kabinet maka langkah menuju RI 1 bukanlah sebuah hal yang mustahil. Jadi kini, banyak orang yang menyatakan pesimis dengan calon PKS, mungkin saja memang bukan itu tujuannya. PKS tengah mengatur strategi untuk mendapatkan kekuasaan di masa-masa yang akan datang.
Atur Toto Sulistyanto, atur@swara.tv