INILAH.COM, Jakarta Niat pengusaha kaya asal Semarang, Syekh Puji, yang berminat menikahi Lutfiani Ulfa dianggap lebih banyak kerugiannya (mudharat). Karena Ulfa masih belum bisa berperan sebagai istri layaknya wanita dewasa.
"Tapi, kalau Syekh Puji, menikahi anak di bawah umur, lalu konsekuensinya seperti pria dan wanita dewasa, itu mungkin yang perlu dipertanyakan. Karena sisi mudharatnya di situ.
Demikian analisis Prof Dr Hasanuddin AF, Guru Besar Hukum Islam UIN Jakarta, kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu
(1/11).
Menurutnya, tujuan pernikahan adalah kebaikan bukan keburukan. Sementara menikahi Ulfa lebih banyak kerugian yang diderita Ulfa. Sebab, Ulfa masih suka dengan teman sepermainan dan belum bisa diikat dengan tali perkawinan.
"Apalagi dibebani tugas sebagai manager, layaknya sebagai istri yang dewasa," cetusnya.
Hasanuddin mengakui Nabi Muhammad SAW menikahi Siti Aisyah pada usia 9 tahun. Tetapi rasul tidak memperlakukan Aisyah sama seperti istri yang sudah berusia dewasa.
"Jadi tujuan syariat itu adalah kemaslahatannya," tegasnya.
Karena itu, Hasanuddin mengusulkan agar Puji menjadikan Ulfa sebagai anak asuh bukan istri. Hal ini dapat dilakukan bila Puji memang berniat merubah nasib Ulfa. "Biayailah, jadikan dia anak asuh, kalau kuliah sampai tamat. Setelah itu barangkali kalau mau ada niat untuk dinikahi ya silahkan," usul Hasanuddin.
Sebelumnya, berita rencana pernikahan Syekh Puji dengan Ulfa membuat geger banyak kalangan. Meski akhirnya dibatalkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tetap berencana mengadukan Puji ke polisi.[ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !