INILAH.COM, Pontianak - Mantan Menteri Koordinator Ekuin Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi perlu disesuaikan dengan kondisi minyak mentah di pasar internasional.
"Saat-saat inilah yang dinantikan," kata Dorodjatun setelah memberi kuliah umum di Universitas Tanjungpura Pontianak, Sabtu (1/10).
Menurut menteri di masa Kabinet Gotong Royong itu, BBM yang sudah diinternasionalkan harganya naik atau turun mengikuti minyak mentah dunia. "Yang seharusnya (BBM) subsidi juga begitu," katanya.
Ia mengatakan, hal itu juga untuk menjaga ketimpangan harga antara BBM subsidi dengan non-subsidi. Harga baru yang ideal untuk BBM bersubsidi dengan kondisi sekarang tergantung kontrak-kontrak baru pembelian. Angkanya diperkirakan pada US$ 70-80 per barrel.
Ia menambahkan, kemampuan pemerintah untuk membeli minyak mentah dalam perdagangan future terbatas karena disesuaikan dengan keuangan. Stok maksimal BBM oleh Pertamina berkisar pada angka kebutuhan konsumsi satu bulan. Sementara untuk negara-negara maju, stok dipertahankan hingga tiga bulan.
Ia menduga BBM di Indonesia saat ini dibeli Pertamina pada saat harga minyak mentah masih tinggi sehingga dikhawatirkan stoknya masih ada yang tersisa kalau ingin dijual dengan harga lebih murah. "Mungkin pemerintah punya pertimbangan tersendiri dalam penentuan harga BBM bersubsidi," kata Dorodjatun.
Jepang termasuk negara yang diuntungkan karena ketika nilai tukar yen menguat harga minyak alami penurunan drastis. Meski mendapat anugerah dibalik krisis keuangan dunia, Jepang masih juga terkena dampak negatifnya.*/[cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !