MENGEKSPLORASI Asia Tenggara seringkali menempatkan kita dalam berbagai situasi aneh. Akhir pekan lalu, contohnya, saya seorang Malaysia berada di Ho Chi Minh City, di antara sejumlah orang Indonesia, dan mendengarkan pidato Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva.
Abhisit adalah seorang teman lama, jadi penilaian saya agak kurang obyektif melihatnya bertarung melawan politikus 'kurang bersih' sekaligus miliarder seperti Thaksin Shinawatra.
Dalam perjalanan luar negeri yang pertama setelah demonstrasi berdarah di Bangkok bulan lalu, ternyata Abhisit terlihat bersemangat. Bicaranya yang lugas dan pembawaannya yang terkesan 'awet muda' akhirnya bisa memenangkan hati pihak-pihak yang dulu meragukannya.
Tapi, dia harus bersiap-siap menghadapi serangan kritik saat kembali ke negaranya, karena sejumlah pernyataannya yang terhitung 'jinak' mengenai situasi politik yang sedang bergolak di sana.
Keadaan darurat yang sedang berlangsung memang membuat sikap positif dan damai yang keluar dari Abhisit menjadi sedikit mengkhawatirkan. Dan juga, saya selalu jengkel bila politisi bahkan teman-teman saya mulai menuding-nuding teroris.
Tetap saja, kekerasan sudah menjadi bagian dari kultur politik Thailand. Sejak Perang Dunia II, sering muncul kekacauan dan percobaan kudeta, belum lagi pemberontakan berdarah yang berkepanjangan di bagian selatan.
Namun, beberapa dekade terakhir, kekuasaan dan pengaruh Raja Bhumibol menjadi stabilisator. Dia menggunakan wewenangnya dengan adil kerap melakukan intervensi untuk menenangkan dan menstabilkan situasi yang dilanda ketegangan.
Pada 20 Mei 1992, monarki Thailand yang waktu itu sedang berada di puncak kekuasaan ditampilkan dalam siaran langsung di TV ketika bertindak keras atas dua jenderal yang berseteru, Suchinda Kraprayoon dan Chamlong Srimuang.
Hanya beberapa jam setelah kericuhan berdarah yang mengguncang Bangkok, gambaran Raja Bhumibol sebagai juru damai di depan dua rival yang berlutut menghadapnya masih melekat di benak orang Thailand dan pemerhati internasional hingga sekarang.
Ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di masa lalu terutama di era 1970-an di mana ketegangan cenderung menjadi brutal. Contohnya, pada 1973 dan kemudian 1976, demonstrasi yang dipimpin mahasiswa menyebabkan sejumlah gangguan, ketika kekuatan saya kanan dan kiri bertarung memperebutkan kendali. Bahkan sampai sekarang, membaca tentang betapa haus darahnya bentrokan yang terjadi pada 1976 ini masih mendirikan bulu kuduk.
Waktu itu, ribuan mahasiswa aliran kiri membuat barikade di Thammasat University, sekitar beberapa blok dari Grand Palace.
Mereka langsung dikepung pasukan sayap kanan, atau Village Scouts. Dalam bentrokan fisik yang terjadi kemudian, tak terhitung banyaknya mahasiswa terluka, bahkan lebih parah lagi. Foto-foto yang memperlihatkan mayat-mayat yang terbakar dan dengan kondisi mengenaskan beredar di seluruh dunia.
Jadi, apa apakah peristiwa yang terjadi baru-baru ini bisa dibilang berbeda? Jawabannya, ya. Kali ini, sayangnya Raja Bumibhol absen.
Ketidakhadiran Sang Raja membuat situasi di Bangkok menjadi lebih parah. Kedua belah pihak menyadari bahwa mereka berebut kuasa pada saat monarki sudah menjadi lemah.
Bagi Thailand, persaingan ini sangat signifikan. Pertarungan Thaksin dan Abhisit adalah pertikaian elit sekaligus ajang memperebutkan jiwa dari Thailand itu sendiri. Semua sudah sangat berbeda dibandingkan pada 1992. Kaos Merah yang sudah berakar hingga ke desa-desa semakin meresahkan kaum elit.
Kaum petani sejak dulu telah patuh dan terintimidasi. Sikap mereka yang kini lebih asertif membuat banyak kaum konservatif, dan juga kelas menengah urban, menjadi khawatir.
Sayangnya, tidak ada anggota keluarga kerajaan lain yang memiliki karisma atau kredibilitas Sang Raja, kecuali mungkin Putri Mahkota Sirindhorn. Dengan citra Bhumibol yang memudar, konflik yang sedang terjadi menjadi konfrontasi habis-habisan. Yang menang akan memimpin Thailand ke masa depan. Yang kalah akan dikucilkan selamanya.
Thailand akan menjadi sangat berbeda, siapapun yang menjadi pemenang. Inilah yang ditakutkan sebagian besar rakyat Thailand. Tetap saja, itu kenyataan yang harus dihadapi, cepat atau lambat.
Secara tradisi, Thailand selalu dipengaruhi tiga faktor: bangsa, agama dan raja. Dan Raja Bhumibol selalu menjadi kekuatan paling besar dari segitiga ini. Oleh karena itu, sangat sulit memprediksi bagaimana nasib Thailand dalam jangka panjang. Yang jelas, gejolak ini belum akan berakhir, terlepas dari betapa optimisnya Abhisit.
Orang Indonesia bisa belajar dari peristiwa yang terjadi di Thailand. Pemusatan kekuasaan pada satu individu atau kelompok adalah sangat berbahaya. Juga, ambisi kelompok yang kaya harus dikontrol. Jangan sampai mereka berkuasa atas kaum mayoritas. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !