INILAH.COM, Johannesburg - Kemenangan bersejarah Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika menimbulkan kebanggaan di kalangan rakyat Afrika. Meski begitu, banyak pengulas memprediksi hal itu tidak akan membuat kebijakan AS bisa menguntungkan benua hitam tersebut.
Banyak orang Afrika mengharapkan Obama, yang dilahirkan dari ayah dari Kenya dan ibu kulit putih Amerika, akan meningkatkan hubungan AS dengan benua Afrika. Jika iya, hal itu diperkirakan semata-mata karena latar-belakangnya. Pengamat lebih meyakni Obama tidak akan leluasa dalam bertindak.
Pengulas politik Daniel Silke mengatakan segera setelah berada di Gedung Putih, Obama akan menghadapi kenyataan pilihannya untuk menangani Afrika dibatasi oleh kepentingan kebijakan luar negeri AS.
"Meskipun mungkin ada keuntungan psikologis atau emosi bagi Afrika, dukungan nyata Obama bagi benua itu masih akan dibatasi oleh kepentingan kebijakan luar negeri AS," ujar Silke, Rabu (5/11).
"Pada saat krisis keuangan, AS akan menghadapi kesulitan untuk berkomitmen pada penambahan jumlah bantuan. Kemampuannya untuk menetapkan komitmen bagi penanaman modal akan bersaing dengan upaya pemulihan sistem keuangannya sendiri," ujar dia.
Obama akan memiliki landasan yang lebih kuat untuk melakukan pembangunan, setelah beberapa tahun terakhir pemerintah George W Bush memberi banyak manfaat nyata bagi Afrika. Pada Juli, Bush melipat-tigakan pengeluaran AS dalam memerangi AIDS, tuberculosis dan malaria --terutama di Afrika-- jadi 48 miliar dolar AS.
Perdagangan dengan Amerika Serikat juga melonjak sejak tahun 2000. Hal itu berkat African Growth and Opportunity Act (AGOA), yang mengizinkan negara sub-Sahara Afrika memperoleh insentif eksport bebas pajak.
Eksport Afrika ke Amerika Serikat telah naik lebih dari tiga kali lipat sejak peraturan tersebut disahkan, naik jadi 51,1 miliar dolar AS pada 2007, kebanyakan akibat kenaikan eksport minyak dari Angola dan Nigeria, demikian laporan AGOA baru-baru ini.
Somadoda Fikeni, pemimpin dewan Walter Sisulu University, memperingatkan bahwa latar-belakang Obama sebenarnya malah membuat dia lebih sulit untuk mengubah kebijakan mengenai Afrika.
"'American-ness' Obama dan hubungan dengan negara asal Afrika telah dieksploitasi oleh penentangnya dari partai Republik dan kubu konservatif di kalangan masyarakat," tutur Fikeni.
Obama juga diperkirakan akan mempertahankan tekanan AS dalam penyelesaian konflik utama di seluruh benua tersebut, terutama di wilayah Darfur, Sudan.
Komando baru itu mulai beroperasi satu bulan lalu dari pangkalan militer AS di Stuttgart, Jerman, tapi pembentukannya telah disambut dengan kecurigaan oleh para pemimpin Afrika, yang khawatir terhadap kehadiran militer AS di benua tersebut. Washington menyatakan Africom bertujuan mencegah konflik dan membina keamanan di seluruh Afrika, dan berkeras bahwa tak ada pangkalan baru yang direncanakan di luar satuan tugas khusus 1.800 anggota yang saat ini berpangkalan di Djibouti.
"Rakyat Afrika tak nyaman menangani urusan militer yang berkaitan dengan kedaulatan dan pembangunan mereka. Rakyat Afrika prihatin bahwa pembentukan Africom mungkin lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat," kata Wafula Okumu, pemimpin program analisi keamanan Afrika di Institute for Security Studies. Namun, kehadiran Obama di Gedung Putih akan memberi dorongan pesikologis penting bagi rakyat Afrika, ujar Silke.[*/ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !