INILAH.COM, Jakarta Pemilu AS kali ini memang benar-benar fenomenal. Selain melibatkan pemilih dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pemilu-pemilu sebelumnya, juga memunculkan presiden pertama AS dari kelompok Afro-Amerika.
Tapi fenomena baru itu tak hanya sampai di situ, karena dari sisi teknologi, pemilu AS kali ini juga menampilkan teknologi layaknya perang bintang. Teknologi semacam apa itu?
Teknologi itu adalah hologram. Sebenarnya teknologi ini tak benar-benar baru, tapi bagaimanapun hologram menjadi hal baru bagi dunia pertelevisian.
Adalah jaringan televisi CNN yang memperkenalkan teknologi kamera baru dan mampu memunculkan korespondennya secara hologram, mirip di film Star Wars. Reporter Jessica Yellin yang berada di Chicago, gambarnya ditransmisikan ke New York dan ditampilkan secara hologram.
Moderator Wolf Blitzer berbicara dengan gambar hologram Yellin, yang saat itu berada di Chicago untuk melaporkan kampanye Barack Obama. Yellin muncul di studio CNN di New York dengan kontur gemerlap mirip dengan tokoh Princess Leia di film fiksi ilmiah Star Wars yang beredar pada 1997.
Pakar telematika Roy Suryo mengatakan, hologram sebenarnya merupakan teknologi lama. Sekitar 3-4 tahun lalu, teknologi ini pernah muncul saat penganugerahan Academy Awards dengan penyerah piala adalah tokoh kartun Bug Bunny yang berjalan bersama selebritas kondang.
Sejak saat itu, teknologi hologram dimanfaatkan oleh siaran televisi untuk melakukan wawancara jarak jauh dengan narasumbernya yang tidak bisa datang ke studio. Dengan teknologi ini, narasumber bisa dihadirkan secara tiga dimensi.
Saat CNN menyiarkan wawancara Wolf Blitzer dengan penyiarnya Jessica Yellin ini, teknologi hologram mulai menarik perhatian orang.
Saat melaporkan strategi kampanye Obama, Yellin tampak nyata berada di studi CNN di New York, padahal ia sedang berada Chicago. Untuk melakukan itu, teknisi CNN butuh tiga pekan untuk menyiapkan setting.
Juga dibutuhkan 44 kamera definisi tinggi yang dipasang mengelilingi narasumber agar bisa memproyeksikan hologram. Narasumber diambil gambarnya dari berbagai sudut.
Berbeda dengan wawancara jarak jauh tradisional dengan membagi layar TV menjadi dua, narasumber diproyeksikan sebagai hologram tiga dimensi. Jadi tampak narasumber yang diwawancara sedang berada di studio CNN di Manhattan.
CNN menggunakan 44 kamera dan 20 komputer di masing-masing lokasi tempat wawancara. Kamera ini mengambil gambar narasumber yang sedang diwawancarai sejauh 360 derajat. Gambar diproses dan diproyeksikan oleh kamera dan komputer di New York. Selain itu juga terdapat TV plasma di Chicago dan Phoenix.
Roy mengatakan teknologi hologram bisa diwujudkan di Indonesia, namun biayanya memang masih mahal. Pada dasarnya sama dengan proyeksi biasa, namun tidak memerlukan layar untuk menampilkannya. Untuk memproyeksikan hologram ini, diperlukan sinar laser dengan sudut pandang x, y z.
Studio TV di Indonesia sebenarnya juga bisa melakukan seperti apa yang dilakukan CNN. Menurut Roy, teknologi hologram seperti pengembangan virtual studio. Dalam virtual studio, latar belakang berwarna hijau bisa diganti-ganti dengan obyek lain. Hal yang sama bisa dilakukan untuk memproduksi hologram dengan cara diproyeksikan.
Roy menambahkan teknologi hologram ini tidak hanya di studio TV, tapi juga akan ada di perangkat konsumen. Pertama adalah masuk ke teknologi ponsel.
Saat ini telepon 3G sudah mampu berkomunikasi dengan melihat lawan bicaranya melalui layar ponsel. Jika teknologi ponsel sudah masuk generasi kelima atau 5G, maka gambar yang ditransmisikan akan ditampilkan secara hologram. Hal ini dimungkinkan karena kecepatan jaringan operator sudah mencapai 2 Mb/detik.[tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !