INILAH.COM, Jakarta - Bagaimana masa depan pemulihan ekonomi Amerika Serikat di bawah administrasi Barrack Obama? Itulah pertanyaan banyak kalangan saat ini setelah Obama berhasil memenangi perebutan kursi Presiden Amerika Serikat.
Banyak analis dan ekonom di Amerika percaya bahwa tidak banyak hal yang bisa dilakukan seorang presiden baru, kecuali melanjutkan apa yang sudah disepakati Presiden Bush dengan Kongres, yakni menjalankan program pemulihan dengan anggaran US$ 700 miliar.
Kondisi perekonomian Amerika dan dunia saat ini terlalu parah untuk mengharapkan terlalu banyak pada Obama seorang. Di atas segalanya, Obama tidak memiliki banyak pilihan. Ini seperti melalui masa buruk apa adanya untuk menuju keadaan yang lebih baik di masa mendatang.
Satu-satunya yang memberi harapan adalah bahwa situasi politik sudah bisa diprediksi dan situasi ketidakpastian sudah berakhir. Sehingga para pebisnis Amerika bisa berharap akan melihat satu cahaya, meski masih kecil, di ujung terowongan.
Departemen Keuangan Amerika sendiri, Rabu (5/11) mencairkan US$ 550 miliar sebagai tahap awal dari dana talangan US$700 miliar. Dana berikutnya baru akan dicairkan lagi tiga bulan mendatang.
Obama akan menghadapi masalah defisit anggaran yang terus membengkak sejak empat tahun terakhir ini untuk membiayai nafsu perang Presiden Bush. Pada 2009, anggaran Amerika diperkirakan defisit sebesar US$ 988 miliar, jumlah ini sekitar dua kali lipat dari seluruh perolehan ekonomi Indonesia.
Padahal pertengahan tahun ini, defisit hanya diperkirakan US$ 482 miliar. Sementara utang baru yang akan dipinjam mencapai US$ 1,4 triliun, suatu angka yang amat fantasis.
Untuk soal defisit anggaran ini, Obama praktis tidak bisa berbuat banyak, selain menerimanya. Sebagai presiden baru, ia akan menerima banyak masalah ekonomi tanpa bisa mengelak, dan itu akan terjadi dalam dua tahun ke depan.
Program Obama yang dia jual dalam kampanyenya seperti pajak perusahaan akan ditingkatkan lalu didistribusikan kepada golongan tak berpunya yang terkena krisis finansial, juga kemungkinan besar tidak akan berjalan sempurna. Bagaimana bisa menaikkan pajak jika perusahaan tidak bisa menghasilkan untung yang layak?
Tapi bagaimana pun, harapan akan masa depan yang lebih baik kini dititipkan di pundak Obama. Namun satu hal yang masih abu-abu adalah apa yang akan dilakukan Obama dan Partai Demokrat dalam merespon usulan koleganya di Eropa yang cenderung menginginkan pengaturan lebih ketat terhadap sektor keuangan.
Apakah Obama akan mengembalikan bandul pengaturan pasar keuangan kelewat bebas yang dianut Amerika sejak Ronald Reagan berkuasa, ke sisi yang lebih ketat? Jawaban atas masalah ini mungkin akan terlihat dalam pertemuan 20 negara berpengaruh dalam bidang ekonomi di Washington, pertengahan bulan ini. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !