Minggu, 27 Mei 2012 | 04:05 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Belanja Dolar Masih Tak Tertahan
Headline
Inilah.com/Noerma
Oleh: Asteria & Natascha
web - Jumat, 7 November 2008 | 08:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (7/11) diperkirakan masih mengalami tekanan, meski tipis. Hal ini dipicu tren menguatnya dolar AS, terutama karena tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan korporasi.
Analis valas Bank HSBC Ruben Teguh mengatakan saat ini belum ada sentimen positif eksternal yang bisa mengangkat rupiah. Namun, rupiah mungkin akan mengalami tekanan dari dolar AS yang masih bullish terhadap mata uang negara ekonomi maju G7.
Hal ini mengingat kebijakan ekonomi Presiden AS terpilih, Barack Obama adalah menguatkan nilai tukar dolar. "Rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran 10.800-11.300 per dolar AS," papar Ruben Teguh, di Jakarta, semalam.
Menurut Ruben, investor kembali menghindari resiko, terlihat dari penguatan yen yang berarti ada aksi risk aversion. Ini berarti pula, euforia kemenangan Obama sudah berakhir. "Investasi safe haven pun diburu investor," tandasnya.
Sedangkan dari dalam negeri, kebijakan bank sentral yang memutuskan untuk mempertahankan BI rate di level 9,5% dinilai tidak banyak memberi dukungan kepada rupiah. Pasalnya, permintaan dolar dari korporasi masih tinggi. "Melonjaknya permintaan dolar ini dipicu kurs rupiah yang masih di atas 10 ribu per dolar AS," ujarnya.
Menurutnya, pola rupiah yang stabil di level atas dan sulit menguat di level bawah, memicu korporasi gencar melakukan pembelian dolar. Bila biasanya pembelian dilakukan di akhir bulan, maka saat ini mereka membeli dolar saat nilainya tinggi."Jadi, sepanjang dolar tinggi, mereka akan terus menumpuk dolar," katanya.
Bertahannya BI rate di tengah tren pemangkasan suku bunga bank sentral beberapa negara dunia, dinilai Ruben merupakan langkah positif. Hal ini mengingat cadangan devisa negara yang mulai menipis sehingga dikhawatirkan kurang kuat menopang rupiah.
Apabila BI memangkas suku bunganya berpotensiu terjadi capital outflow sehingga akan menggocang nilai tukar rupiah. "Apalagi tingkat inflasih masih tinggi," ucapnya.
Sampai akhir Oktober 2008, cadangan devisa Indonesia berada di kisaran US$ 51 miliar, turun US$ 6,108 miliar dari cadangan devisa akhir September di level US$ 57,108 miliar. Depresiasi nilai tukar rupiah diperkirakan menjadi salah satu pemicu penyebab terkoreksinya cadangan devisa.
Namun, sebenarnya masih ada ruang bagi rupiah untuk menguat yaitu dari masuknya dana-dana asing, berupa portofolio atau foreign direct investment (FDI). Pertemuan Kelompok 20 (G20) yang akan membahas reformasi sistem keuangan dunia juga memberi sentimen positif bagi rupiah.
Ruben meminta pelaku valas mencermati juga pergerakan indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), mengingat ada potensi tekanan besar dari lantai bursa akibat aksi jual saham BUMI. Menurut Ruben, bila indeks turun lagi, maka hal ini berpotensi memicu konversi ke dolar.
Di sisi lain, Rektor Pelaksana Harian Universitas Multimedia Nusantara, Johanes S. Prajitno mengatakan, kemenangan Barack Obama menjadi Presiden AS diharapkan dapat menstabilkan nilai dolar AS yang akhir-akhir ini terus menguat akibat kekhawatiran pasar akan krisis keuangan global.
"Terpilihnya Obama diharapkan berdampak pada kondisi ekonomi AS yang membaik, karena track record presiden dari Partai Demokrat memiliki kebijakan yang fokus pada sektor ekonomi," katanya.
Membaiknya ekonomi AS, akan memicu pertumbuhan ekonomi dunia khususnya Indonesia yang saat ini nilai tukar rupiahnya terpuruk hingga di atas 11 ribu per dolar AS. Hal ini juga akan mengurangi ketakutan pelaku pasar yang saat ini membeli dolar AS dan kembali melepasnya sehingga rupiah akan kembali membaik.
Kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan di pasar spot antar bank Jakarta, Kamis (6/11) terpantau menguat 155 poin ke level 10.845. Demikian pula nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.297,93 , atas dolar Hong Kong naik menjadi 1.396,72, terhadap dolar Australia menguat ke level 7.345,32, dan atas euro ditutup menguat ke level 13.979,96. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.