INILAH.COM, Jakarta - Hukuman mati bagi trio bomber yakni Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas akhirnya dieksekusi. Sesudah eksekusi tiga 'syuhada' yang melakukan serangan Bom Bali I, ada beberapa kemungkinan yang akan mewarnai relasi Islam radikal dengan negara di era reformasi ini.
"Allahu akbar, isy kariman aw mut syahidan. Dan semua berserah diri ke Allah SWT," kata Zul Shalahudin, aktivis Islam dan peneliti Pusat Studi Sosial Politik Universitas Negeri Malikussaleh, Lhoksumawe Aceh yang prihatin dan was-was atas perkembangan situasi.
Menjelang eksekusi mati terhadap pelaku Bom Bali , Minggu (9/11) dini hari sekitar pukul 00.15 WIB, ancaman balas dendam terhadap pemerintahan SBY-JK sudah digemakan. Ancaman dari berbagai situs dan pesan singkat di kalangan Muslim radikal timbul karena 'sakit hati' akibat langkah pemerintah untuk mengeksekusi ketiga syuhada ini.
Meski merupakan klimaks yang menghentikan pro dan kontra publik soal hukuman mati itu sendiri, eksekusi ketiga syuhada ini, dalam persepsi para analis politik, menimbulkan beberapa implikasi politik.
Pertama, eksekusi Amrozi cs tersebut membangkitkan kembali (rekindle) spirit perlawanan Islam fundamental dan terorisme di kalangan salafi radikal. Kaum Islam radikal ini merasa aksi eksekusi itu sebagai bentuk abuse of power yang harus dilawan dengan kekuatan pula.
Kedua, terjadi perang urat syaraf antara kaum teroris, Islam radikal dan pemerintah yang sangat mungkin dalam proses adu kuat ini, para teroris dan Islamis radikal kian terjepit dan terdesak namun justru kian nekad dan berani untuk bertindak.
Bukankah sejarawan Ruth McVey dari Cornell University, Amerika Serikat, tempo hari berhujah bahwa Islam di Indonesia semakin ditekan dan dipalu godam maka semakin keras melawan dan menghantam.
Kita harus waspada bahwa tidak hanya Jamaah Islamiyah (JI), namun juga pengikut (Darul Islam) radikal sanggup melakukan terorisme. Tidak hanya itu, bahkan berbagai kelompok Jihad Islam radikal sudah menyediakan diri untuk mati syahid melawan 'negara' yang ditekan AS (baca:Barat) untuk memerangi terorisme atas nama agama.
Ketiga, aksi perlawanan kultural sudah diperlihatkan kaum Muslim seperti kelompok Abu Bakar Basyir, FPI, Jihad Islam, JI, Laskar Jundulah, dan para Taliban lain yang simpati kepada Amrozi cs itu, yang amat mungkin balas dendam. Semua kemungkinan kelam itu merupakan isyarat tindakan yang menakutkan publik dan mencemaskan masyarakat madani. Hampir pasti mal-mal, hotel-hotel dan tempat hiburan serta tempat umum lainnya harus diamankan lebih ketat, Siaga I dan seterusnya.
Kita sedang memasuki 'ketidakpastian baru' pasca eksekusi mati Amrozi cs ini. Bagaimanapun eksekusi itu adalah suatu pesan simbolik yang ditujukan terhadap Islam radikal dan fundamental, sekaligus merupakan pesan terang bahwa pemerintah menolak 'kesepakatan dan perjanjian damai' dengan kaum Islam radikal dan teroris yang sebelumnya sudah diajukan oleh kaum teroris.
Dengan kemenangan Barack Obama di Amerika dan eksekusi bomber Bali di Indonesia, jalan damai menuju 'zona bebas kekerasan' masih panjang dan berliku. Kemana lagi arah dan tanda-tandanya, kita belum tahu. Yang pasti, mari mawas diri dan siaga menghadapi 'aksi pembalasan' kaum Islam radikal yang selalu membayangkan syahid dalam hidupnya karena tak tahan melihat ketidakadilan dan ketimpangan global maupun nasional dalam skala massal.[L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !