Selasa, 29 Mei 2012 | 04:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tanthowi Yahya
Saya Bukan Sopan Sophiaan!
Headline
Tanthowi Yahya - inilah.com
Oleh: R Ferdian Andi R
web - Minggu, 9 November 2008 | 20:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta Fenomena artis masuk dunia politik dalam Pemilu 2009 kini semakin nyata. Sedikitnya jumlah caleg dari kalangan selebritas ini mencapai 59 orang, yang tersebar di sejumlah partai politik.

Potret artis yang sukses di dunia politik sebut saja almarhum Sophan Sophiaan. Sebagai politisi, suami artis Widyawati tersebut tergolong idealis dan vokal. Bahkan, Sophan berani berbeda pendapat dengan arus utama di partai politik. Posisi politik demikian, menjadikan Sophan sebagai potret artis yang sukses di dunia politik.

Namun, lain halnya bagi Tanthowi Yahya. Pemandu acara ini mengaku tak akan meniru almarhum Sophan Sophiaan yang bernai menentang kebijakan partai jika dirasa tak sesuai dengan idealitas. "Saya bukan Sophan Sophiaan. Insya Allah saya tidak akan mengecewakan konstituen saya," kata selebritas yang kini berkiprah di Partai Golkar.

Apa maksud Tanthowi? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Anda menyebut partai Golkar adalah sebagai salah satu partai modern di Indonesia. Ada alas an khusus?
Saat ini, Partai Golkar memasuki fase modernisasi partai. Karena ciri partai politik modern adalah kepemimpinan yang kolektif. Jadi tidak ada lagi otoritas ketua umum, yang ada adalah dewan pimpinan. Salah satu ciri partai modern itu kepemimpinan yang kolektif.
Saya sangat yakin dengan pola seperti ini. Usulan-usulan baru yang sifatnya kepada kebijakan masih bisa dirembugkan. Seperti di Partai Golkar, banyak kebijakan muncul dari rapat pimpinan, karena merupakan suara mayoritas, maka semuanya setuju. Seperti soal suara terbanyak, itu merupakan sejarah baru di Partai Golkar yang fenomenal.

Apakah Anda siap untuk keluar dari patai politik jika tidak sreg dengan kebijakan internal partai politik seperti yang dilakukan almarhum Sophan Sophiaan?
Saya bukan Sopan Sophiaan. Jika terpilih di parlemen, itu merupakan amanah dari rakyat. Kita berjuang untuk mendapatkan itu, jadi tidak mungkinlah. Insya Allah saya tdiak akan mengecewakan pemilih saya. Aspirasinya apa cukup dalam lima tahun untuk direalisasikan. Insya Allah dengan berpijak dengan keinginan saya untuk mengabdi ke masyarakat.

Bagaimana Anda meyakinkan publik tentang komitmen Anda untuk tidak terlibat di arus besar di parlemen yang cenderung negatif?
Politik itu adalah seni kemungkinan, jadi tidak ada harga mati di politik. Masalahnya saat ini, bagaimana kepintaran kita melobi kawan. Jadi suara dan idealitas kita bukan milik sendiri, tapi milik kelompok.
Memang tidak sederhana, tapi kalau ada kopetensi dan kebutuhan masyarakat melatarbelakangi kepentingan tersebut, itu adalah hal yang mungkin. Jadi lobi politik itu adalah seni, di sinilah kita diuji bagaimana kita memainkan kepiawaian kita dalam melobi fraksi lain.

Apakah karena ketrampilan Anda dalam 'public speaking' yang menjadikan Anda percaya diri?
Bukan. Tapi adalah pengalaman saya yang saya geluti selama ini di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pariwisita. Saya selama ini sudah melakukan cek banding, artinya PR saya sudah banyak. Dengan modal itu, saya akan cukup instrumental dalam kedudukan saya sebagai anggota Komisi X nanti, Insya Allah. Bukan karena gagah-gagahan, saya benar-benar ingin berkontribusi selama lima tahun ke depan. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.