INILAH.COM, Jakarta - Eksekusi mati terpidana mati Bom Bali I Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudera memunculkan gelombang empati. Poster dan spanduk dukungan moril terhadap tiga terpidana mati pun marak. Inikah titik balik menguatnya radikalisme Islam?
Massa pendukung teroris Amrozi, Ali Ghufron, dan Amrozi terus bertambah sejak mencuatnya pemberitaan rencana ekseksui hukuman mati di dua daerah asal ketiga terpidana mati Bom Bali I yakni Lamongan, Jatim dan Serang, Banten. Puncaknya, Minggu (9/11) saat jenazah terpidana mati tiba di daerah asalnya, massa semakin membludak.
Antusiasme massa pendukung ketiga terpidana mati ini muncul dari kelompok Islam yang selama ini dikenal cukup keras. Sebut saja, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Anshorut Tauhid (organisasi pimpinan Abu Bakar Ba'asyir), Front Pembela Islam (FPI), dan beberapa ormas Islam lainnya.
Bila menilik antusiasme organisasi Islam tersebut, tampaknya eksekusi ketiga terpidana mati Bom Bali I menjadi momentum konsolidasi untuk bersatu dengan isu bersama, yaitu empati dengan terpidana mati Bom Bali I. Inikah momentum rekonsolidasi gerakan Islam radikal di Indonesia yang sempat meredup pasca penangkapan aktivis Islam yang terlibat kasus bom?
Dalam pandangan Ketua Jurusan Antropologi Universitas Malikus Shalih Lhokseumawe NAD Teuku Kemal Fasya, gelombang dukungan organisasi Islam radikal atas pelaksanaan eksekusi ketiga terpidana mati Bom Bali I cukup dimaklumi. "Karena kelompok Islam radikal ini tidak mendapat ruang publik dalam memperkuat eksistensinya," katanya kepada INILAH.COM, Minggu (9/11).
Terkait dengan ekseskusi terhadap Amrozi dan kawan-kawan, Kemal menilai, akan semakin meningkatkan eskalasi kelompok Islam radikal terhadap negara. "Karena kelompok Islam radikal melihat, negara tidak berlaku seimbang dalam memperlakukan mereka," katanya.
Hal senada dikatakan Ketua Pengurus Cabang Internasional (PCI) NU Australia-Selandia Baru HS Eko Zuhri Ernada. Menurut dia, eksekusi Amrozi dan kawan-kawan akan menjadi martir bagi kelompok Islam radikal lainnya.
"Eksekusi Amrozi dan kawan-kawan hanya memenuhi keinginan mereka untuk menjadi martir. Citra martir itu pun kini sudah terjawab di masyarakat seperti adanya orang yang menjual baju kaos bergambar Amrozi," katanya.
Kondisi ini pula terlihat dalam pengadilan kasus kerusuhan Monas awal Juli lalu. Terdakwa kerusuhan Monas, Munarman dan Rizieq Shihab menilai, dirinya didholimi oleh penguasa dengan dijatuhkannya hukuman 1,5 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Sementara dalam pandangan Ketua Umum PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Hamka Haq, menguatnya dukungan terhadap Amrozi dan kawan-kawan, akan menjadi masalah serius bagi tumbuhnya gerakan Islam radikal di Indonesia.
"Jelas akan sedikit menganggu, seolah-olah, kelompok ini besar, padahal cukup kecil," katanya yang juga guru besar UIN Alaudin Makassar saat dihubungi secara terpisah.
Menurut Hamka, terjadi pemahaman yang tidak tepat atas Islam dengan melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain. Menurut dia, kondisi ini tidak terlepas dari sikap aparat keamanan yang tidak tegas dalam menindak perilaku kasar kelompok Islam radikal. "Harusnya aparat keamanan harus tegas atas setiap tindakan kekerasan oleh siapapun," tegasnya.
Terkait dengan sebutan syahid kepada para terpidana mati bom Bali I, Hamka menegaskan, hal tersebut adalah urusan Tuhan. "Syahid tidaknya seseorang adalah urusan Tuhan. Tapi yang pasti Tuhan melarang melakukan tindak kekerasan atas nama apapun. Nah, Amrozi dkk salah," tandasnya.
Lain lagi bagi Direktur Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra. Menurut dia, Amrozi dan kawan-kawan tidak memenuhi syarat disebut sebagai syahid. "Karena yang mereka lakukan di bom Bali bukanlah jihad, mereka membunuh orang sipil bahkan termasuk orang Islam," katanya.
Pekerjaan rumah bagi ormas keagamaan Islam dalam melakukan dakwah Islam secara benar tampaknya bukan hanya agenda penting, tapi harus dilakukan secara maksimal.
Selain potensi radikalisme Islam semakin menguat pasca orde baru ini, pemahaman yang tidak tepat jelas akan merusak citra Islam sendiri. Tidak hanya itu, sikap tegas aparat keamanan dalam menindak setiap aksi kekerasan harus dilakukan tanpa pandang bulu. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !