Rabu, 23 Mei 2012 | 21:34 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Anak Usaha Topang Saham ASII
Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria
web - Selasa, 11 November 2008 | 08:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta Seiring pelemahan ekonomi global, industri otomotif PT Astra International (ASII) bakal terimbas negatif. Namun kinerja anak usaha yang kinclong yakni PT Astra Agro Lestari (AALI) dan PT United Tractors (UNTR) menjadi penolong.
Analis IndoMitra Securities David MJ Ferdinandus mengungkapkan, basic bisnis ASII yaitu kendaraan, memang mengalami penurunan. Kendati masih berada dalam tren bearish, namun kinerja ASII sepanjang 2008 diperkirakan masih mencatatkan performa positif.
Pasalnya, kinerja perseroan pada kuartal-kuartal sebelumnya telah menyumbang kenaikan cukup pesat. "Sehingga jika melihat akumulasi secara total untuk 2008 masih baik. Saya masih memberi rekomendasi positif untuk ASII," ujarnya.
Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil hingga kuartal ketiga tahun ini meningkat hingga 47% menjadi 467.272 unit dibandingkan 2007.
Namun, penjualan mobil pada 2009 diperkirakan anjlok 30% menjadi sekitar 406 ribu dibanding proyeksi penjualan tahun ini sebanyak 580 ribu unit. Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar dan yen, serta suku bunga BI rate yang tinggi menjadi pemicunya.
Selain itu keputusan diturunkannya harga BBM per Desember 2008 dinilai masih belum mampu meningkatkan penjualan kendaraan bermotor. Hal ini mengingat kalangan perbankan yang hingga kini masih melakukan seleksi kredit hingga akhir tahun terkait krisis global, sehingga kucuran kredit pembiayaan kendaraan bermotor akan tertahan.
Lebih lanjut David mengatakan, saham ASII masih berpotensi menarik kalau dikaitkan dengan kinerja anak usahanya seperti UNTR dan AALI. "ASII baru menarik kalau dikaitkan dengan kinerja anak usaha, terutama pendapatan anak usahanya," katanya.
Menurut David, kinerja AALI dan UNTR pada kuartal ketiga 2008 ini masih luar biasa. Pertumbuhannya yang cukup pesat ini pun diharapkan bisa memberi kontribusi yang baik pada induk usaha.
Ia juga menyarankan saham UNTR dan AALI untuk dikoleksi investor. "Saya lebih merekomendasikan saham anak usahanya, yaitu AALI dan UNTR yang masih akan bagus hingga akhir tahun," tandasnya.
Saham UNTR pada perdagangan kemarin ditutup naik 50 poin ke level Rp 3.950 setelah pada awal November ini berada di level Rp 3.775 per lembarnya. Sedangkan saham AALI kemarin ditutup melemah Rp 350 menjadi Rp 8.200, setelah awal November ini bertengger di level Rp 7.250 per unitnya.
Menurut David, UNTR sebagai saham berbasis alat berat dinilai mempunyai potensi positif, terkait kinerja perseroan yang bagus dan ekspansinya dalam berbagai sektor usaha seperti pertambangan. "Saya rekomendasikan buy dengan target harga hingga akhir tahun di level Rp 5.500 per lembarnya," ujarnya.
Pada kuartal ketiga 2008, laba bersih UNTR, mencapai Rp 2,09 triliun, naik 89% dibandingkan periode yang sama 2007 dengan pendapatan naik 59% menjadi Rp 21,1 triliun. Permintaan pasar yang kuat menyebabkan penjualan alat berat Komatsu naik 46% menjadi menjadi 3.823 unit, dengan pangsa pasar 45%.
Hingga akhir tahun ini, UNTR menargetkan bisa menjual sekitar 4.250 unit alat berat. Analis saham dari Trimegah Securities, Stanley Tjiandra dalam sebuah risetnya pernah menulis kinerja UNTR hingga akhir tahun diperkirakan masih sesuai dengan target
Sementara mengenai AALI, David menambahkan, meski harga AALI turun seiring harga CPO dunia yang merosot, sebenarnya kebutuhan pasar global masih akan naik pada 2009, yaitu sekitar 15%. Namun harganya tidak terlalu tinggi.
Selain itu, rencana perseroan membangun dua pabrik baru dapat mengembangkan kinerja AALI. Apalagi perseroan berencana membagikan dividen pada November ini di level Rp 350 per lembarnya. "Ini berarti ada ruang penguatan. Saya masih rekomendasikan beli dengan target harga hingga akhir tahun di level Rp 9.700,"katanya
Paramitra Alfa Sekuritas dalam sebuah risetnya baru-baru ini juga memaparkan, AALI berpeluang naik karena beberapa sentimen positif. Seperti bertahannya BI rate 9,5%, kinerja perseroan yang positif, sementara pungutan ekspor minyak sawit mentah turun. Hal ini ditambah valuasi saham yang cukup rendah. "Strong buy AALI, untuk jangka pendek berpotensi menuju Rp 10.000," ujarnya.
Hingga September 2008, laba bersih AALI tercatat naik 66% menjadi Rp 2,13 triliun (yoy) dipicu kenaikan penjualan bersih 62,6% menjadi Rp 6,69 triliun. Pencapaian ini berasal dari peningkatan harga CPO sebesar 41% dan produksi yang naik 12% mencapai 817.780 ton. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.