INILAH.COM, Jakarta Barack Obama sudah mulai menyiapkan langkah penting untuk mengatasi warisan George W Bush, terutama di sektor ekonomi. Beberapa posisi kunci sangat penting demi terlaksananya Obamanomics. Tapi, kenapa tiga posisi penting belum tergantikan?
Tiga orang pilihan Bush berada pada posisi krusial dan masih menjabat setidaknya hingga dua tahun pertama pemerintahan Obama. Mereka adalah Gubernur Bank Sentral Ben S. Bernanke, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Michael Mullen yang ditunjuk langsung oleh Menhan Robert Gates, serta Direktur FBI Robert S. Mueller III.
Obama sudah mengerti bahwa ia harus membuat pemindahan kekuasaan berjalan semudah dan semulus mungkin. Buktinya, ia tetap mempertahankan Gates pada posisinya. Tapi bagaimanapun, ia tetap harus berharap banyak pada staf masa pemerintahan Bush.
"Di situlah letak tantangannya," ujar William A. Galston, penasihat kebijakan domestik mantan presiden Clinton. "Ketiga orang penting itu benar-benar mengabdi pada rakyat, mereka bukan partisan. Lagi pula, Obama bukanlah seseorang yang (hanya bisa) bekerja dengan nyaman jika dikelilingi orang-orang pilihannya. Ia terlatih untuk menyesuakan diri dengan lingkungannya."
Bernanke adalah mantan ketua tim penasihat ekonomi presiden Bush dengan reputasi buruk karena dinilai memimpin negara AS menuju resesi. Kendati penganut Republik, ia juga pragmatis nonideologis dengan kualitas yang disukai Obama, yakni kalem, senang membangun konsensus, dan ahli secara akademis.
Gebernur bank sentral AS ini dekat dengan para kandidat utama posisi Menkeu pemerintahan Obama. Lawrence H. Summers telah lama ia kenal dan Timothy F. Geithner yang presiden The Fed cabang New York merupakan rekannya dalam mengahadapi krisis finansial. Di sisi lain, Obama telah mentukan sikap bahwa The Fed harus mandiri. Artinya, ia tidak akan bisa memaksakan kebijakan ekonominya pada bank sentral itu.
Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Mullen akan turun jabatan pada akhir 2009. Sebagai penasehat militer Obama, ia memilik pandangan yang sama, terutama mengenai Irak dan Afghanistan. Tugasnya adalah menyampaikan opsi, menjabarkan risiko yang dihadapi, menimbang kekuatan militer, dan memberikan nasihat mengenai prioritas bujet militer.
Keduanya sepakat mereka harus segera menambah pasukan ke Afghanistan dan mengurangi jumlah serdadu di Irak. Mullen setuju untuk memprioritaskan Irak, kemudian baru Afghanistan, dan akhirnya mencari cara untuk mengurangi ketegangan kekuatan tempur mereka.
Namun keduanya juga memiliki perbedaan pandangan dalam urusan yang satu itu. Obama ingin semua kekuatan militer AS ditarik dari Irak pada pertengahan 2010. Sementara Mullen tak setuju dengan hal itu. Menurutnya, rencana penarikan pasukan ini bisa menjadi sesuatu yang berbahaya bagi mereka. Reduksi jumlah kekuatan seharusnya ditentukan oleh kondisi yang terjadi di medan perang.
Hubungan Obama dengan penasihat militer lainnya bisa lancar dan produktif jika ia memandang permasalahan secara pragmatis. Para penasihat itu menolak jika pasukan ditarik secara bersamaan. Jika Obama tetap memaksakan untuk menarik dua brigade per bulan, bukan tak mungkin konflik militer akan kembali terjadi.
Urusan kemanan dalam negeri, Robert S. Mueller III adalah tumpuan Obama. Direktur Biro Investigasi Federal AS (FBI) itu bisa diandalkan dalam mengkoreksi tindakan pemerintahan Bush yang agak sedikit 'berlebihan'. Masa jabatan Mueller yang akan berakhir pada 2011 ini berawal beberapa hari sebelum serangan teroris di WTC New York dan Pentagon di 2001.
Pada masa pemerintahan Bush, Mueller masih seorang staf pada Departemen Hukum dan tak banyak berhubungan dengan Obama. Kini ia akan berkomunikasi langsung dengan sang presiden terpilih pada briefing intel harian mengenai pergerakan para teroris.
Dalam beberapa hal, Mueller telah menunjukkan persetujuannya atas beberapa prioritas Obama. Mueller sering mendapat telepon dari kepolisian lokal, berisi permintaan untuk menambah kekuatan dalam mengatasi tindak kriminal skala lokal. Sementara Obama dan Wapres Joe Biden, mempertimbangkan untuk menambah dana guna menyewa beberapa agen FBI tambahan demi kepentingan ini.
Namun demikian FBI juga memiliki perbedaan kepentingan dengan Obama. Mueller baru saja mengeluarkan sebuah pedoman baru yang efektif berlaku per 1 Desember mendatang. Agen FBI diperbolehkan berada dalam pengawasan jangka panjang dalam mengejar teroris, menyembunyikan identitas mereka, serta diam-diam memasuki organisasi yang dianggap mengancam keamanan nasional AS.
Sejauh ini, presiden kulit hitam pertama AS itu belum berkata apa-apa mengenai aktivitas intel ini. Tentunya, kegiatan ini akan melanggar hak kebebasan sipil. Kabarnya, sikap Obama mengindikasikan dirinya ingin melihat operasi intel FBI sedikit lebih dalam. Selain itu, ia ingin FBI lebih dalam menyelidiki white-collar crimes terkait dengan melemahnya sektor finansial AS. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !