INILAH.COM, Jakarta PT Bank Century dikabarkan mengalami kegagalan kliring dipicu ketatnya likuiditas. Isu terjadinya rush nasabah merebak. Sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun terpaksa disuspensi. Pertanda krisis likuiditas makin parah?
Ekonom Fadhil Hasan mengatakan, kasus gagal kliring yang dialami Bank Century ini mungkin ada kaitannya dengan kesulitan likuiditas. Pasalnya, saat ini perbankan memang tengah mengalami kesulitan pendanaan.
"Ini dapat mengakibatkan munculnya kasus seperti gagal bayar ini," ujar Fadhil ketika dimintai komentar INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (13/11). Hal ini menyikapi berita tentang kegagalan kliring Bank Century yang begitu hebat sehingga tidak diizinkan mengikuti aktivitas kliring hari ini.
Bank tersebut juga dikabarkan mulai membatasi penarikan dana nasabah di atas Rp 10 miliar. Kabar yang beredar pun mengatakan bahwa kasus ini bakal menyeret Bank Century masuk dalam pengawasan Bank Indonesia (BI).
Dihubungi terpisah, Corporate Affairs Division Head Bank Century Deddy Triyana membantah telah terjadi kegagalan kliring sebesar Rp 5 miliar yang menyebabkan dihentikannya kliring bank tersebut hari ini.
Menurutnya, Bank Century hanya telat membayar dana refund karena data RTGS (Real Time Gross Settlement) terlambat masuk. "Penghentian kliring sementara saja. Itu hanya karena keterlambatan masuknya RTGS, sehingga menimbulkan sedikit keterlambatan dana refund untuk kliring hari ini," ujar Deddy saat dikonfirmasi INILAH.COM .
Lebih lanjut Deddy mengatakan bahwa transaksi yang disebut-sebut 'kegagalan kliring' itu lebih karena kesalahan administratif dan Bank Century telah menyelesaikan kewajiban Rp 5 miliar tadi pagi. "Ini murni kesalahan administratif. Sesuai peraturan, keterlambatan sedikit saja, kliring sudah langsung dihentikan," tambahnya.
Ia pun menjelaskan bahwa kondisi ini terkait dengan tingginya intensitas transaksi dana masuk dan keluar nasabah sehubungan dengan ketatnya kondisi likuiditas saat ini. "Kita juga kan harus berhitung dulu setelah RTGS masuk. Kekurangan itu hanya Rp 5 miliar. Kita berharap masyarakat tidak panik dan terjadi rush," tukasnya.
Lebih lanjut Fadhil mengatakan bahwa akibat kekeringan likuiditas di perbankan saat ini, banyak persoalan yang bisa menimpa sistem lembaga-lemabaga keuangan, termasuk perbankan.
Selain itu, bisa saja ada mismatch antara dana yang dikelola dengan kredit yang disalurkan. "Kemudian juga mereka melakukan pinjaman antar bank yang semakin sulit sehingga mereka gagal kliring," timpalnya.
Ini berarti bahwa dalam keadaan likuidasi ketat seperti sekarang, banyak persoalan finansial yang mungkin terjadi. Salah satunya adalah larinya dana-dana ke bank luar negeri. "Potensi dana-dana yang disimpan untuk dibawa ke luar negeri masih besar karena belum dijamin sepenuhnya oleh pemerintah," tukasnya.
Sementara Gubernur BI Boediono mengaku telah mendapat laporan mengenai kasus kalah kliring Bank Century. Boediono mengatakan bank sentral akan terus memonitor apa yang terjadi di Bank Century dan juga mengupayakan pemecahan masalah bank nasional hasil gabungan CIC International, Bank Danpac dan Bank Pikko itu.
"Iya betul (sudah dapat info), saya kira kita akan melihat lebih mendalam lagi, bagaimana pemecahannya," kata Boediono. Namun, ia menegaskan tak hanya BI yang mengupayakan jalan keluar tetapi pihak Bank Century juga harus bertanggung jawab atas timbulnya masalah ini.
Sejak sesi kedua perdagangan Kamis (13/12), pihak otoritas bursa terpaksa melakukan suspensi terhadap perdagangan saham bank berkode bursa BCIC itu. Hal ini terkait beredarnya informasi yang tidak jelas yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi perdagangan di lantai bursa. Adapun harga terakhir saham BCIC sebelum disuspensi adalah Rp 50 per lembar.
Peristiwa telat membayar kliring ini juga ikut meresahkan nasabah. Apalagi sejak kemarin beberapa nasabah Bank Century mengaku tidak bisa mengambil dananya. Alasannya karena bank tidak bisa melakukan kliring.
Berdasarkan laporan keuangan Bank Century per 30 September 2008, perseroan mencatat rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/ LDR) sebesar 47,59% atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu 33,18%. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !