INILAH.COM, Jakarta Barack Obama dan tokoh yang akan digantikannya, George W Bush, Selasa (11/10) bertemu di Gedung Putih. Sepertinya hanya silaturahmi biasa. Padahal, pertemuan itu sangat penting bagi mereka berdua, juga AS.
Presiden Bush merupakan inisiator pertemuan itu. Katanya, supaya terjadi pengalihan kekuasaan secara mulus. Keduanya sekaligus menunjukkan sikap sebagai pemimpin AS yang saling menghargai.
Selama ini peralihan kekuasaan orang nomor satu di Gedung Putih sebenarnya tidak pernah berjalan mulus. Penyebabnya adalah para karyawan Gedung Putih sendiri. Semua staf Gedung Putih bekerja di sana berdasarkan kontrak kerja. Staf yang bertugas di Gedung Putih saat ini, akan ikut hengkang begitu serah terima jabatan dari Bush ke Obama terjadi 20 Januari.
Karena tidak ada pengaturan, begitu Obama dan staf rekrutannya mulai bertugas, mereka akan mendapati tempat-tempat kerja yang kosong. Ketidakmulusan ini memberikan kesan antara presiden lama dan presiden baru tidak saling menghargai.
Jadi, bagi Bush dan Obama pertemuan itu sekaligus membangun sebuah tradisi baru sekaligus menandai berakhirnya perseteruan antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Bush dan Obama secara tidak langsung mengirim pesan kepada bangsa AS bahwa ada saatnya para pemimpin AS berseberangan, tapi ada waktunya mereka bisa duduk sejajar dan berdampingan.
Bush yang dijuluki sebagai Presiden terburuk dalam sejarah abad modern Amerika, terlanjur punya berbagai kendala psikologis saat akan meninggalkan Gedung Putih. Hubungannya dengan orang separtai dan orang kepercayaannya, tiba-tiba saja memburuk. Yang paling serius adalah hubungannya dengan John McCain, capres Partai Republik yang dikalahkan Obama dalam Pipres 4 Nopember 2008.
Hubungan yang tidak harmonis ini, di atas kertas, sudah berlangsung selama delapan tahun. Hanya kedewasaan dan kesabaran McCain yang membuat hubungan mereka tidak terekspose secara terbuka.
McCain diam-diam merasa tidak dibantu oleh Bush. Padahal Bush sebetulnya berutang budi kepada McCain. Sebagai sesama anggota Partai Republik, McCain dalam setiap kampanyenya wajib membela semua kebijakan Bush. Padahal, dalam banyak hal, mereka berdua bersaing ketat atau bersepaham.
Sebutlah misalnya soal isu perang. Sebagai prajurit AS yang mengalami cedera ketika berperang di Vietnam lebih dari 30 tahun lalu, McCain sangat tidak setuju dengan perang yang digelar Bush di Irak, Afganistan, dan wilayah lainnya.
Namun perbedaan yang paling mendasar dan meninggalkan luka paling dalam adalah ketika pencalonan di konvensi Partai Republik tahun 2000. McCain secara pribadi merasa George Bush yang menggagalkannya sebagai capres dari Partai Republik pada tahun 2000.
Entah trik apa yang dilakukan Bush terhadap McCain. Namun delapan tahun lalu, McCain yang ketika itu sudah berusia 63 tahun sebetulnya berharap Bush muda mengalah dulu. Apalagi hampir semua Partai Republik yakin bahwa kalau McCain yang menjadi capres ia akan mengalahkan Al Gore. Karena pada waktu itu performa dan popularitas McCain sebagai senator berpengalaman dan veteran Perang Vietnam tak tertandingi.
Hanya saja sejarah mencatat lain. Tiba-tiba saja Bush dan McCain tampil dalam sebuah pertemuan pers dan mengumumkan pencalonan Bush. "Saya mendukungnya", ujar McCain. Wartawan ketika itu melihat senator itu berkata dengan kalimat yang tidak lancar. Ada keterpaksaan.
Bush memang memenangi Pilpres 2004, tetapi selisih suaranya dengan Al Gore sangat tipis hanya dalam kisaran puluhan ribu suara. Itupun hanya di satu negara bagian. Kebetulan negara bagian (Florida) itu dipimpin Jeff Bush, saudara kembar George. [Bersambung/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !