Rabu, 23 Mei 2012 | 21:42 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Gurih CPO Siap Dilirik
Headline
istimewa
Oleh: Asteria
web - Jumat, 14 November 2008 | 15:16 WIB
INILAH.COM, Jakarta Harga CPO bergerak cenderung melemah seiring volatilitas harga minyak dunia. Namun, serangkaian kebijakan dan aksi korporasi menghembuskan angin optimisme. Investor pun tak ada salahnya mulai melirik kembali saham CPO.
Pada perdagangan Jumat (14/11) sesi siang, saham perkebunan CPO terpantau stagnan cenderung naik. Saham PT London Sumatera Plantations (LSIP) naik 100 poin ke level Rp 2.575 sementara saham PT Astra Agro Lestari (AALI) stagnan di level Rp 7.500.
Saham perusahaan perkebunan sawit grup Bakrie, PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) stagnan di level Rp 325 demikian pula saham PT Tunas Baru Lampung (TBLA) stagnan di level Rp 205 per lembar.
Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan, sentimen positif bertahannya BI rate sebesar 9,5% dan pemangkasan suku bunga perbankan secara agresif dapat meningkatkan kinerja emiten. Hal ini didukung pungutan ekspor untuk minyak sawit mentah (CPO) yang telah turun.
"Sementara naiknya harga minyak mentah akan menjadi sentimen positif yang mengangkat kembali harga komoditas," paparnya, Jumat (14/11). Harga minyak mentah Nymex jenis light sweet untuk pengiriman Desember naik US$ 2,08 menjadi US$ 58,24 per barel.
Di sisi lain, industri sawit Indonesia akan melakukan peremajaan tanaman CPO seluas 1 juta hektar di Sumatera dan Kalimantan dalam tiga tahun ke depan. Tujuannya, menstabilkan harga dan permintaan CPO di pasar dunia.
Dengan peremajaan 300 ribu hektar lahan per tahun, diharapkan dapat mengurangi produksi CPO sebesar 500.000 ton per tahunnya. Tanpa peremajaan, produksi CPO hanya akan mencapai 18-19 juta ton tahun depan, sedangkan ekspor 2009 diperkirakan hanya 10-11 juta ton.
Meski harga CPO diperkirakan naik tahun depan, kalangan eksportir mengkhawatirkan penurunan permintaan dan pembatalan kontrak dari importir di sejumlah negara tujuan ekspor. Sejumlah importir India sudah membatalkan kontrak CPO di atas 100.000 ton.
Analis Capital Sekurindo Haryajid Ramelan mengatakan saham LSIP masih rentan koreksi, terutama karena harga CPO kembali turun mengikuti tren merosotnya harga minyak mentah dunia.
Kendati demikian, ia menilai saham LSIP masih cukup potensial untuk dikoleksi terkait kinerjanya yang positit di kuartal ketiga 2008. "Saya rekomendasikan buy on weakness LSIP dengan target harga Rp 3.000 per lembar," ujarnya.
Saham lain yang masih menarik dikoleksi jangka panjang adalah UNSP. Menurut Haryajid, kinerja bagus ditunjang price earning ratio (PER) yang masih kecil sebesar 2,2 kali serta price to book value (PBV) cukup sehat 0,4 kali, membuat UNSP berpotensi naik. "Saya rekomendasikan beli. Target harga Rp 600 per lembar," ujarnya.
Trimegah Securities juga merekomendasikan beli UNSP. Menurutnya, saham UNSP berpeluang gerak pada kisaran Rp 320-390. Dengan titik support pertama di Rp 330 dan kedua di level Rp 310, UNSP akan mencoba level resistan di Rp 370 dan bila tembus akan berlanjut ke posisi Rp 390.
Analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, setelah sebelumnya sempat menyentuh harga terendah, UNSP berhasil naik, meski fluktuatif. Tapi pergerakan sahamnya dipengaruhi harga minyak yang volatile. "Saya melihat UNSP berpotensi menguat meski dipengaruhi sentimen harga minyak," timpalnya.
Sementara Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi positif pada saham AALI. Hal ini terkait capital expenditure (capex) yang digunakan perseroan hingga kuartal ketiga 2008 baru mencapai Rp 830 miliar dari yang dianggarkan Rp 1,5 triliun. Perseroan, menganggarkan 25-30% dari total capexnya untuk mencari lahan baru.
Hingga akhir 2008, perseroan berencana menambah luas lahannya 200 ribu hektar dan melakukan penanaman lahan 22 ribu hektar. "Untuk jangka pendek, kami rekomendasikan hold AALI, tapi bisa akumulasi beli untuk jangka panjang,' ujarnya.
Sementara itu, sesuai analyst meeting dengan PT Tunas Baru Lampung (TBLA), Samuel Sekuritas juga memberi rekomendasi positif terkait kinerja perseroan. "TBLA masih kami rekomendasikan hold, namun untuk jangka panjang bisa dikoleksi," timpalnya.
Pada kuartal ketiga 2008, penjualan TBLA melonjak 138% year on year mencapai Rp 3,1 triliun, dengan laba bersih naik 141% menjadi Rp 272,7 miliar. Peningkatan ditopang tingginya harga jual CPO dua kuartal sebelumnya, meskipun pada kuartal ketiga turun sangat signifikan menjadi US$ 400-500 per ton.
Terkait volume, perseroan menegaskan akan me-maintain penjualan CPO sebanyak 30 ribu ton per bulannya. Sementara margin TBLA juga mulai tertekan karena penurunan harga jual CPO menjadi 23% dari kuartal sebelumnya sebesar 25%.
Untuk 2009, perseroan menyatakan telah memperoleh kontrak baru menjadi 40 ribu ton per bulan dan tidak ada pembatalan kontrak meskipun harga CPO terus merosot. Perseroan juga membantah berita yang menyebutkan rencana pembangunan dermaga di Lampung untuk memudahkan pengangkutan CPO. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.