Sikap inkonsisten biasa terjadi di dalam percaturan politik, haus akan kekuasaan menjadi fakor utamanya. Iklan kampanye PKS di hari pahlawan menampilkan Soeharto sebagai pahlawan sekaligus guru bangsa menuai kontroversi.
Banyak aktifis reformasi 98 dibuat kecewa dengan iklan itu. Dulu PKS merupakan salah satu aktifis reformasi 98 yang ikut melengserkan kepemimpinan Soeharto. PKS juga dikenal sangat anti terhadap Soeharto. Di tahun 2006, PKS menyatakan sikap perlawanannya terhadap Soeharto.
Seperti Mahfudz Siddiq (Ketua Fraksi PKS DPR RI), sempat mengecam pemerintah agar mengadili Soeharto dan kroninya. Almuzzammil Yusuf (Wakil Ketua Komisi III DPR-RI) juga sempat menyerukan agar KPK mengambil alih kasus Soeharto. Dan Rama Pratama (anggota Fraksi PKS DPR RI) mengatakan penghentian kasus Soeharto preseden buruk, saat pemerintah berencana memberikan pengampunan dan penghentian kasus Soeharto.
Anehnya sekarang PKS mengiklankan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa. Mungkin saja Soeharto telah dijadikan amunisi politik oleh PKS. Dulu di tahun 2006 PKS memojokkan Soeharto bertujuan meraih simpati masyarakat politik dan aktifis reformasi, agar mereka dipandang sebagai partai pendukung reformasi sejati.
Begitupun pada kampanye iklan politik PKS di hari pahlwan dengan menampilkan Soeharto sebagai salah satu pahlawan dan guru bangsa. Mungkin hal tersebut bertujuan untuk merebut simpatisan Soeharto yang masih banyak.
Diperkirakan simpatisan Soeharto banyak pada masyarakat low intelegence. Wajar saja jika masyarakat itu masih menganggap Soeharto sebagai pemimpin terbaik Indonesia. Hal tersebut lantaran pada masa pemerintahan Orba media dikekang, disensor, harus sejalan dengan kepentingan pemerintahan Soeharto. Hampir tidak pernah sama sekali kita mendengar kejelekan Soeharto yang diungkap oleh media saat itu.
Apabila PKS memanfaatkan keadaan ini sebagai batu loncatan demi untuk merebut suara 20% pada pemilu 2009 justru sangat memilukan. Karena secara politik, itu berarti PKS telah mengambil alih strategi politik pembodohan rakyat yang dulu dipegang oleh pemerintahan Orba. Masyarakat low intelegence akan semakin dibutakan, alih-alih mencerdaskan mereka ke taraf sebagaimana yang diamanatkan oleh UU, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sikap inkonsisten PKS belakangan ini memang mulai terlihat saat mereka mengeritik SBY agar tidak terlalu emosional dalam menghadapi lawan politiknya. Di satu sisi PKS bertindak sebagai oposan pemerintah, sedangkan di sisi lain mereka juga merupakan bagian integral koalisi SBY-JK dan Kabinet Indonesia Bersatu.
Sikap bermuka dua (officiding type) dalam politik memang kerapkali terjadi, lantaran terselubungnya kepentingan politik pragmatis. Ini biasanya mewabah pada politikus yang haus akan kekuasaan. Menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama, di atas kepentingan rakyat pemilihnya.
Permainan judi PKS dengan mengiklankan Soeharto sebagai guru bangsa dan pahlawan, tentu akan berdampak negati, mencoreng citra dirinya sendiri sebagai partai reformis, bersih, dan peduli.
Selama ini hanya Partai Golkar yang berusaha agar Soeharto masuk sebagai salah satu pahlawan bangsa, tapi niat itu tidak kesampaian, lantaran banyak pihak menolak. Sikap inkonsisten PKS ini sebagai tanda-tanda akan berkoalisinya ia dengan Partai Golkar, untuk mencapai ambisinya menduduki kursi pemerintahan.
rangga.tobing@gmail.com