INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (17/11) diperkirakan bergerak pada kisaran 11.500-12.100 per dolar AS. Aksi buru dolar AS masih akan terjadi. Namun, intervensi BI di pasar domestik akan menahan kejatuhan rupiah.
Analis Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rakhmat Wibisono mengatakan, pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah mengalami penguatan karena adanya pembatasan valas oleh Bank Indonesia (BI) yang sedikit meredam pelemahan rupiah.
Adapun terbatasnya aksi spekulator di pasar valas dan intervensi BI yang masih mensuplai dolar ke pasar domestik untuk stabilisasi rupiah, diperkirakan akan mampu mengangkat rupiah hari ini . "Saya pikir rupiah akan bergerak di level 11.500-12.100 per dolar AS, " ujarnya, di Jakarta, kemarin.
Menurut Rahkmat, permintaan dolar masih akan tinggi dipicu penurunan ekspor, serta kebutuhan korporasi menjelang akhir tahun. Ini berarti, fenomena perburuan dolar masih akan berlanjut hingga penghujung tahun.
Sementara itu, tidak ada sentimen negatif dari faktor eksternal yang menekan rupiah. Hal ini mengingat dolar tidak terlalu banyak mendominasi mata uang utama dunia sepanjang pekan lalu, terlihat dari penguatan terhadap sebagian besar mata uang lain.
Namun, lanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah rencana perubahan bailout AS senilai US$ 750 miliar yang dikhawatirkan akan mempengaruhi pasar bursa. Pasalnya, hal ini akan menentukan penanganan defisit AS yang membengkak.
"Pembengkakan defisit AS perlu diantisapsi dampaknya agar tidak sampai ke negara berkembang, caranya adalah dengan menguatkan ekonomi domestik," ujarnya.
Saat ini semua negara, tutur Rakhmat mengantisipasi krisis finansial dengan menurunkan suku bunga, sehingga dapat memicu pertumbuhan domestik mereka. The Fed menargetkan memangkas suku bunga hingga 0%. Sedangkan Bank of Europe (BoE) akan menurunkan suku bunga menjadi 2%. Ini berarti masih ada ruang 1% dari pososi sekarang di level 3%.
"Bila bank sentral negara lain menurunkan suku bunganya, akan membuat dolar merasa di atas angin dan mendominasi mata uang lain. Pengaruh faktor eksternal ini dapat berimbas pula terhadap rupiah sehingga jatuh," katanya.
Pada pertemuan negara G20 akhir pekan lalu, tidak terlalu banyak hal signifikan yang diputuskan, sehingga diperkirakan tidak terlalu berimbas pada pergerakan rupiah. Mencuat keinginan Eropa untuk mengubah patokan perdagangan kembali ke sistem Bretton Wood, yang berbasis emas.
Hal ini berawal dari tudingan negara kawasan Eropa yang menyalahkan krisis finansial AS dipicu mata uang yang bebas. Padahal, penyebab sebenarnya adalah twin defisit AS. Sementara itu, negara berkembang akan rugi kalau nilai tukar dipatok.
Kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan valas di pasar spot antar bank Jakarta, akhir pekan lalu ditutup di level 11.525 terhadap mata uang AS. Adapun nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 7.700,17, atas dolar Hong Kong naik menjadi 1.506,39, terhadap dolar Australia menguat ke 7.565,44 dan atas euro ditutup melemah ke level 14.791,65. [E1]