INILAH.COM, Jakarta - Dalam iklan politiknya, PKS sengaja memasang beberapa tokoh pahlawan nasional yang memiliki basis dukungan fanatik yang sangat representatif. Langkah PKS ini dinilai tidak jujur bila merujuk pada nilai-nilai kejujuran dalam berpolitik partai berlambangkan bulan sabit kembar dan padi ini.
"Kalau mau jujur kan banyak pahlawan nasional, tapi kenapa yang dipakai dalam iklan PKS hanya tokoh-tokoh itu saja. Padahal banyak, tokoh-tokoh yang lain yang tidak diungkap, seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar dan banyak lainnya. Lebih dari ratusan," kata pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur KH Salahauddin Wahid, dalam perbincangannya dengan INILAH.COM,, di Jakarta, Senin (17/11).
Pria yang akrab dipanggil Gus Solah ini menjelaskan, apa yang dilakukan PKS ini menyiratkan, bahwa PKS kurang jujur dengan segala kekurangannya, yakni atas lemahnya kepemimpinan serta ketokohan yang dimiliki oleh partai.
mantan Wakil ketua Komnas HAM ini menambahkan, pahlawan nasional itu mempunyai beberapa kategori. Yakni diakui oleh negara dan ada yang diakui oleh masyarakat. Namun, ada juga yang diakui oleh kedua-duanya.
"KH Hasyim Asy'ari sendiri kan memang sudah diakui oleh negara maupun masyarakat," tambah cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu.
PKS sebagai partai politik, diakui Gus Sholah, sudah cukup baik dengan bisa mengenalkan tokoh-tokoh bangsa kepada masyarakat Indonesia. Namun yang disayangkan, seharusnya secara etika PKS meminta izin dulu.
Tapi tetap saja, menurut adik Abdurrahman Wahid ini, partai politik adalah politik. "Apapun yang namanya politik selalu harus menang dengan cara apapun," ujarnya
Iklan PKS memang memunculkan polemik karena beberapa keluarga, pewaris dan massa fanatik pendukung tokoh nasional dipakai dalam iklan PKS memberikan reaksi penolakan. Namun ada juga yang menanggapi secara dingin, biasa dan bahkan membolehkan.[nng]