INILAH.COM, Jakarta Konperensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 (G-20 Summit) berakhir tanpa hasil di Washington, Sabtu (15/11). Egoisme para pemimpin dunia menjadi salah satu penyebabnya. Seperti apa wajah dunia ke depan?
Gagalnya KTT G-20 tercermin dari dua hal. Pertama, sebagaimana digambarkan suratkabar The Telegraph (Inggris), bahkan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown yang biasanya lancar bicara, gagal meyakinkan wartawan tentang hasil KTT. "Brown tidak bisa menjawab dengan kalimat yang bisa dipahami dan meyakinkan apa sebenarnya yang dihasilkan KTT Washington", tulis harian terkemuka di Eropa itu.
Catatan kedua, terlihat dari komunike bersama. Komunike menyebutkan KTT berikutnya diselenggarakan April 2009. Namun soal negara mana yang akan menjadi tuan rumah, berikut tanggalnya yang pasti belum disepakati.
Tentu saja, belum disepakatinya tanggal penyelengaraan cukup janggal. Pasalnya, kesepakatan sementara yang dicapai KTT Washington merekomendasikan kesepakatan 2008 baru akan dibahas dalam KTT 2009. Agar kesepakatan dapat dicapai, maka pada Maret 2009, para pejabat tingkat menteri atau pejabat senior dari peserta G-20, melangsungkan pertemuan pendahuluan.
Kesepakatan seperti ini bukan hanya janggal, melainkan tidak lazim. KTT 2009 nanti bukan hanya membahas soal 'masa depan', melainkan 'masa lalu'. Para pemimpin dunia bukannya berkumpul untuk 'maju', tetapi bagaimana bergerak 'mundur'.
Penyelenggaraan sebuah KTT lazimnya bertahap. Mula-mula materi KTT dibahas pejabat senior setingkat direktur jenderal dalam pertemuan yang dikenal Senior Official Meeting (SOM). Hasil SOM lalu dibahas para menteri atau Ministerial Meeting. Hasil ini kemudian dibawa ke KTT dan biasanya materi itu sudah 99,9% final. Jadi ketika para ketua delegasi bertemu dalam KTT, mereka sebetulnya tinggal membaca sambil lalu saja. Hanya dalam hitungan beberapa menit, KTT bisa membuat kesepakatan.
Penyelenggaraan KTT G-20 di Washington memang agak di luar tradisi. Di Sao Paolo, Brasil, memang diselenggarakan pertemuan tingkat menteri. Tapi tidak terdengar dengan gamblang apa dan bagaimana hasil yang dibicarakan para delegasi di Brasil.
Agenda utamanya tetap fokus pada mencari rekomendasi dan jalan keluar dari akibat krisis keuangan global, tapi yang santer mencuat justru rumor yang menyebutkan kemungkinan Brasil, Rusia dan China tidak hadir di KTT Washington.
Rumor itu masuk akal. Sebab pemimpin Rusia dan Brasil adalah dua tokoh dunia yang banyak berselisih dengan Presiden George W Bush. Sementara China sekalipun tidak terang-terangan berselisih, tetapi punya sikap kritis terhadap Presiden AS yang menjadi tuan rumah KTT G-20 tersebut.
Makanya kalau keputusan KTT 2008 seperti itu dijadikan bahan parodi, bukan mustahil akan banyak orang yang terkaget-kaget. Orang awam pun akan ikut menertawai para pemimpin dunia tersebut. Bayangkan ada 20 presiden dan perdana menteri dari lintas benua yang bertemu dan berkumpul di ibukota sebuah negara adidaya untuk mencari solusi. Alih-alih menemukan solusi, yang mereka hasilkan justru ketidakjelasan solusi.
Artinya sekalipun mereka bergelar pemimpin dunia, ternyata tidak menjamin mereka akan keluar dengan gagasan-gagasan brilian. Mereka tetap manusia biasa juga yang tidak lepas dari kekurangan dan keterbatasan.
Tak heran, saat KTT berlangsung, di luar gedung pertemuan muncul suara penentangan. Sekelompok demonstran terus menghujat para presiden dan perdana menteri. Para pemimpin itu dinilai tidak becus dan hanya dikangkangi Bush.
Akibatnya, muncul suara-suara sinis dan ketidaksukaan terhadap eksistensi kaukus 20 negara tersebut. Sinisme misalnya tercermin dari bentuk pertanyaan seperti berikut: apa sulitnya menentukan tanggal dan lokasi KTT 2009 ? Apa yang dibahas sehingga tidak sempat membuat kesepakatan? Apakah mereka ke Washington hanya untuk jalan-jalan atau sekadar memenuhi undangan perpisahan Presiden George Bush?
Daftar pertanyaan tak berhenti sampai di situ. Sudah begitu parah dan kritiskah keuangan negara peserta sehingga tidak ada lagi yang bersedia menjadi tuan rumah? Atau kalau memang sudah tidak punya kepedulian atau telah kehilangan semangat memimpin, lalu untuk apa lagi mereka bertahan sebagai presiden, perdana menteri?
G-20 sebelumnya dibanggakan sebagai perkumpulan prestisius dan bermutu. Kaukus ini dianggap lebih dapat diterima mayoritas negara-negara di dunia ketimbang WTO yang berusaha mengatur sistem perdagangan dunia.
Diasumsikan, jika ke-20 negara bersepakat, kesepakatan mereka akan lebih diterima masyarakat dunia. Kesepakatan G-20 mampu memperbaiki kehidupan umat manusia di dunia secara keseluruhan. Seoalnya ke-20 negara peserta kaukus baru mewakili atau menguasai 85% perekonomian dunia. Selain itu dalam jumlah populasi, G-20 sudah mewakili lebih dari separuh penduduk dunia. [Bersambung/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !