inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,910.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Di Balik Kegagalan KTT G-20 (2)

Bush Tak Serius, Obama Tak Siap

Headline
George W Bush dan Barack Obama - istimewa
Oleh: Derek Manangka
Senin, 17 November 2008 | 21:47 WIB
INILAH.COM, Jakarta Konperensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 berjalan nyaris tanpa arah. Karena itu, hasilnya pun gampang ditebak: tak punya harapan. Betulkah pergantian kepemimpinan di Amerika Serikat ikut berpengaruh?
Selain sinisme, ada juga pandangan yang realistis dan pragmatis tentang apa yang menyebabkan KTT G-20 berakhir tanpa hasil. Yang dianggap penyebab utama adalah tuan rumah Amerika Serikat (AS) sendiri. Pada dasarnya, tak bisa dipungkiri inilah momen penting dimana untuk pertama kalinya AS berperan sebagai tuan rumah yang
tidak siap.
Entahlah, apakah ketidaksiapan ini benar-benar disebabkan oleh tingkat keseriusan dari dampak masalah krisis keuangan. Atau, semata-mata karena sebuah kebetulan saja. Misalnya, kebetulan AS akan mengalami peralihan kepemimpinan.
Yang pasti, ketidaksiapan tersebut telah membuat 19 pemimpin dunia yang berkumpul di Washington, ketika kembali ke negaranya masing-masing harus membuat dongeng baru yang bisa dipercaya oleh rakyat dan konstituen mereka.
Tidak siapnya AS terkait dengan momen transisi kekuasaan. Presiden baru (Barrack Obama) sudah terpilih. Tapi karena belum menerima alih kekuasaan dan jabatan dari Presiden George W Bush, kewenangannya belum ada. Oleh sebab itu Obama belum bisa hadir apalagi memimpin KTT 2008.
Padahal, Bush diyakini sudah tidak punya kewenangan dan bakal tidak mau mengambil keputusan yang lebih mencederai citranya. Namun, secara protokoler dan prosedural, Bush masih harus memimpin KTT Washington. Bush masih diakui oleh semua peserta sebagai legitimate chairman of G-20 Summit.
Maka, yang terjadi adalah Amerika diwakili oleh pemimpin yang sudah tidak punya akuntabilitas. Namun, demi martabat bangsa AS, ia harus mengesampingkan kendala tersebut. Sekalipun ia sudah kehilangan semangat, untuk tertibnya KTT, Bush harus mampu melakoni perannya dengan penuh keterpaksaan.
Di pihak lain, para peserta harus bisa berpura-pura bahwa mereka percaya Ketua Sidang KTT G-20, sedang tidak punya masalah. Maka, akhirnya KTT berjalan dengan tujuan tanpa arah.
Selain faktor di atas, fakta lain yang terjadi di AS adalah adanya 'presiden kembar'. Cerita tentang AS punya 'presiden kembar', bukan baru kali ini. Karena sistem ketatanegaraannya memungkinkan hal tersebut muncul. Setiap kali terjadi pergantian presiden, kehidupan politik di AS pasti melewati satu periode dimana pada saat bersamaan ada 'presiden kembar' dengan gelar berbeda: out-going president dan the president-elect.
Kehadiran 'presiden kembar' itu tanpa disengaja. Hanya saja, kali ini 'presiden kembar' tersebut muncul tatkala AS sedang dilanda krisis. Di saat itu, harus ada pemimpin yang mengambil keputusan. Inilah yang menjadi dilema. Siapa di antara dua presiden itu yang membuat keputusan? Apakah Bush yang masih berada di Gedung Putih atau Obama yang telah dipilih rakyat menggantikan Bush?
Jadi saat ini, sebetulnya AS tidak beda dengan istilah kapal laut, kapal perang yang sedang punya dua nakoda. Nakhoda senior (Bush) sudah bersiap-siap melabuhkan kapal, sementara nakhoda junior (Obama) sedang bersiap siap di skoci penyelamat. Dua-duanya punya kewenangan memerintah para awak kapal masing-masing.
Kehadiran dua nakoda dalam satu kapal ini tidak akan punya konsekuensi apabila situasi yang dihadapi aman-aman saja. Tapi persoalannya menjadi lain. Sudah menjadi semacam konvensi atau aturan tidak tertulis, sebuah keputusan KTT tanpa keterlibatan AS akan percuma. Apalagi KTT itu berlangsung di wilayah AS.
Padahal AS yang diharapkan ikut terlibat, sedang tidak ingin terlibat, atau sedikit banyaknya tidak mau memberi komitmen atau janji. Nah yang dibahas dalam KTT sendiri sebetulnya berawal dari krisis yang muncul di AS. Jadi mustahil bila tidak mengikutsertakan AS.
Di sisi lain, Bush sebagai presiden yang merekrut sejumlah ahli dan penasehat terkesan sudah ditinggalkan oleh timnya. Ini tercermin dari pernyataannya tentang Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Bush tidak siap serta tidak peka lagi. [Bersambung/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.