Minggu, 27 Mei 2012 | 04:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Setelah Shinta & Century, Lalu?
Headline
Inilah.com/Subekti
Oleh: Bastaman
web - Selasa, 18 November 2008 | 07:28 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Lini bisnis Sinar Mas Multiartha (SMMA) semakin lengkap jika rencana akuisisi Bank Century jadi kenyataan. Dari mulai asuransi, sekuritas hingga multifinance. Tapi, siapa pemilik SMMA yang sebenarnya?
Setelah kalah kliring dan diisukan kesulitan likuditas, Bank Century akhirnya dimbil PT Sinar Mas Multiartha. Penandatanganan surat pernyataan minyat (LoI) terhadap 70% saham Bank Century Tbk dilakukan secara mendadak pada hari Minggu (16/11), sehingga mengejutkan banyak kalangan.
Transaksi yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 982,3 miliar itu kabarnya sudah diketahui oleh Bank Indonesia. Sebelum Sinar Mas masuk, bank beraset Rp 15,2 triliun itu dikuasai oleh PT Century Mega Investindo dan First Gulf Asia Holdings Ltd.
Jika rencana akuisisi ini menjadi kenyataan, maka Sinar Mas Group akan memiliki dua bank. Sebab, sebelumnya, pada 2005, perusahaan milik taipan Eka Tjipta Widjaja ini telah mengakuisisi 100% saham Bank Shinta (kini namanya berubah menjadi Bank Sinar Mas).
Dengan masuknya Bank Century, lini bisnis Sinar Mas Multiartha menjadi semakin lengkap. Selain bank, SMMA juga sudah memiliki perusahaan asuransi, sekuritas, dan multifinance.
Nah, bagi pemegang saham SMMA di pasar, masuknya Bank Century dalam bisnis SMMA tentu memberi harapan besar, setidaknya untuk investasi jangka panjang.
Sebenarnya kepemilikan keluarga Eka Tjipta Widjaja di SMMA masih menyimpan misteri. Tiga tahun silam, 83,76% saham SMMA masih dikuasai JBC International Finance Limited yang beralamat di Mauritius. Sementara yang dikuasai publik jumlahnya mencapai 16,2%.
Ada pun kepemilikan saham Indra Widjaja, salah satu anak Eka Tjipra Widjaja, hanya 0,04% (naik dari sebelumnya yang hanya 0,01%). Namun ada yang menduga JBC adalah perusahaan milik Indra Widjaja.
"Kalau bukan milik keluarga Eka, mana mungkin nama Bank Shinta berubah jadi Bank Sinar Mas," kata sebuah sumber. Jika sinyalemen itu benar, berarti keluarga Eka belum berani memakai nama sendiri untuk ekpansi bisnisnya di Indonesia. Mungkin masih trauma peristiwa 1998. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.