inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Hasil Survei Membingungkan Publik (2-Habis)

Hasil Survei LSI Layak Diragukan

Headline
Saiful Mujani - inilah.com
Oleh: R Ferdian Andi R
Selasa, 18 November 2008 | 08:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Sungguh mengejutkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani. Dia memperhitungkan peluang Partai Demokrat menang cukup besar. "Saya tak percaya," ujar pengamat politik Boni Hargens.
Keterkejutan muncul karena Partai Demokrat mengungguli partai politik yang kuat secara ideologis maupun infrastruktur, yaitu Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Di samping pula, hingga setahun menjelang berakhirnya pemerintahan SBY, prestasi Partai Demokrat maupun SBY hanya di layar kaca, nyaris sulit ditemukan di tengah-tengah masyarakat.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menyangsikan hasil survei LSI pimpinan Saiful Mujani. "Saya tidak percaya atas hasil survei LSI Saiful Mujani," tegasnya kepada INILAH.COM, Senin (17/11) di Jakarta.
Pemilihan obyek survei sangat mempengaruhi hasil setiap lembaga survei seperti LSI. Jika obyek survei adalah basis Partai Demokrat, tak aneh partai tersebut jadi pemenangnya. "Makanya obyek survei sangat penting. Itu harus kita ketahui," katanya.
Dalam survei LSI, obyek yang disasar dalam survei adalah berimbang disesuaikan dengan data BPS. Seperti persentase laki dan perempuan (49,8%-50,2%), Jawa non Jawa, dan pedesaan-perkotaan (59%-41%).
Jika memang Partai Demokrat mengalami kenaikan, harus jelas indikasi penyebabnya yang tidak lepas dari prestasi dan kinerja partai politik. Boni menegaskan, karakter dan wajah Partai Demokrat tak bedanya dengan partai politik lainnya. "Indikatornya, SBY gagal. Jadi, tidak mungkin suara Partai Demokrat naik, apalagi partai baru memiliki kesamaan dengan Partai Demokrat banyak," tegasnya.
Terkait dengan suara mengambang yang total berjumlah 45%, Boni meragukan jika swing voter beralih ke Partai Demokrat. Karakteristik pemilih Partai Demokrat yang tidak fanatik, sulit menjadikan pemilih mengambang memilih Partai Demokrat. "Apalagi kategori mengambang adalah para pemilih pemula, ibu rumah tangga," katanya.
Keraguan yang sama muncul dari Direktur Eksekutif Reform Institut Yudi Latif. Dengan tanpa ada tanda-tanda kenaikan popularitas SBY, populatritas Partai Demokrat langsung meroket. "Saya pribadi juga agak aneh melihat hasil survei LSI," katanya.
Reform Institute yang selama ini juga melakukan survei rencananya akan melansir hasil survenya pada awal Desember mendatang dengan obyek yang tak jauh berbeda dari survei LSI. Menurut Yudi, dalam survei yang dibutuhkan adalah integritas dari hulu hingga hilir. "Kalau soal metodologi, saya kira sudah standard," tegasnya.
Terkait dengan integritas hulu, menurut Yudi, lembaga survei harus mampu menjaga independensi dalam melakukan survei. Menurut dia, semangat survei harus terdorong dengan objektivitas penelitian. "Jangan sampai semangat survei hanya untuk kepentingan yang membiayai survei, sedikit banyak akan mempengaruhi hasil survei," katanya.
Yudi memandang, eksistensi Partai Demokrat sangat tergantung dengan figur SBY dalam memerintah. Artinya, Partai Demokrat sangat rapuh dibanding partai politik lainnya yang masuk dalam kategori papan atas. Tren dukungan SBY selama ini masih didominasi di luar Jawa.
"Tapi tampaknya itu hanya menjadi cerita lama. Luar Jawa juga terimbas krisis saat ini seperti turunnya komoditas sawit dan karet," paparnya. Menurut Yudi, beralihnya swing voter ke Partai Demokrat, sangat tergantung pada figur SBY.
Sementara secara terpisah peneliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI) Iman Suherman menegaskan, pihaknya tak mungkin mengorbankan kredibilitas lembaga hanya karena memuaskan kilen politiknya. "Hasil LSI itu adalah hasil apa adanya yang kita dapat saat survei," katanya.
Menurut Iman, pihaknya tak jarang mendapat tudingan sebagai lembaga partisan ketika melansir hasil survei yang dianggap menguntungkan partai politik tertentu. Posisi serupa pernah dialami saat mengumukan posisi tertinggi bagi PDI Perjuangan dan Partai Golkar. "Harus diingat kita bukan konsultan politik, tapi hanya lembaga survei," tegasnya membantah rumor miring.
Survei LSI juga menemukan bahwa kenaikan popularitas Partai Demokrat sangat erat dengan figur SBY. Iklan politik maupun iklan layanan masyarakat oleh pemerintah seperti BOS (Bantuan Operasional Sekolah), PNPM Mandiri, Bantuan Langsung Tunai (BLT). "Saya ragu kalau kenaikan Partai Demokrat ada murni karena Partai Demokrat, tapi karena SBY," aku Iman.
Terkait dengan potensi perpindahan swing voter ke Partai Demokrat, Iman menjelaskan untuk mengetahui hal tersebut harus berpijak hasil Pemilu 1999 dan 2004 lalu. PDIP Pada Pemilu 1999 mendapai 33% dan 2004 meraih 18%. Partai Golkar pada Pemilu 1999 mencapai 24% dan Pemilu 2004 meraih 22%. "Nah Partai Demokrat baru ikut Pemilu pada 2004, meraih 7,5%," katanya. [Habis/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.