inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Di Balik Kegagalan KTT G-20 (3-Habis)

Bank Dunia-IMF, untuk Apa?

Headline
istimewa
Oleh: Derek Manangka
Selasa, 18 November 2008 | 11:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Kegagalan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Konperensi Tingkat Tinggi Kelompok 20, antara lain disebabkan legitimasi Presiden George W Bush melorot. Toh, dia masih rela membela-bela Bank Dunia dan IMF.
Menghadapi krisis keuangan global kali ini, hampir semua peserta berusaha mengesampingkan keterlibatan dan peranan Bank Dunia serta IMF. Ironisnya Bush justru masih memuji-muji dan mengandalkan kedua lembaga yang berkantor pusat di Washington tersebut.
Bush mengingatkan pentingnya peranan dua lembaga itu untuk membantu negara-negara di dunia yang mengalami kesulitan ekonomi dan keuangan. Bush dinilai sudah tidak 'nyambung' dengan apa yang harus diperhatikannya.
Sebetulnya ketika pada 2006 Gubernur Bank Sentral AS Greespan mengundurkan diri dari jabatannya, pengunduran tersebut sebetulnya sebuah peringatan serius terhadap Bush. Peringatan itu juga berlaku dan tertuju terhadap teknokrat Amerika yang mendewakan Bank Dunia dan IMF.
Apalagi ketika Greenspan menulis buku yang intinya banyak mengkritik kebijakan Bank Dunia dan IMF. Bush langsung dianggap tidak fokus pada soal-soal penting. Kepercayaan dan pujiannya terhadap Bank Dunia dan IMF, menambah laibilitasnya.
Sejumlah negara Eropa sendiri seperti Prancis sudah siap dengan konsep baru tentang sistem transaksi keuangan internasional. Prancis melalu Presiden Nicolas Sarkozy dikabarkan ingin menggolkan mata uang euro sebagai "pengganti" dolar Amerika.
Tapi konsep ini sendiri akhirnya "tidak bunyi" , tidak dipresentasikan atau tidak dipasarkan. Ada kekuatiran jika konsep itu disampaikan, maka pihak AS akan serta-merta menolaknya dengan tidak memberikan argumentasi yang kualitatif. Kemungkinan penolakan AS itu sudah diantisipasi. Tapi Prancis berharap harus ada dialog dan argumenstasi yang kualitatif.
Para Ketua Delegasi juga sebetulnya banyak berharap Barrack Obama sebagai the president-elect, bisa hadir. Setidaknya mereka bisa berkenalan atau bertegur sapa lewat forum G-20 tersebut.
Sayangnya Obama tidak hadir. Sehingga timbul kesan bahwa Obama tidak menjadikan KTT Washington sebagai agenda penting. Obama tetap di Chicago, jauh dari Washington dan hanya mengutus sepasang politikus. Diplomat senior, Madeline Albright, mantan Menlu AS di pemerintahan Bill Clinton dipadukannya dengan politisi muda Jim Leach, anggota DPR dari Partai Republik.
Alasan mengutus atau memilih kedua orang itu saja sudah menimbulkan tanda-tanya. Karena sekalipun Madeline Albright seorang mantan orang ketiga di hirarki pemerintahan Bill Clinton, tapi tema (krisis) yang dibahas dalam KTT G-20 itu bukanlah 'domain' atau keahliannya.
Lalu dipilihnya Jim Leah oleh Obama mendampingi Albright, juga tak kalah membingungkan. Selain Leah jauh lebih muda dibanding Albright, rekam jejaknya sebagai politisi juga tidak banyak yang tahu. Lagi pula sebagai politisi dari partai yang berseberangan dengan Obama, inipun membuat banyak orang semakin bingung.
Sesungguhnya apa yang sedang dipikirkan Obama? Mengapa Obama tidak memilih wakil dari Partai Demokrat?
Atau yang cukup terhormat sebetulnya bila Obama menugaskan Joe Biden, Wakil Presiden terpilih yang dianggap piawai dalam masalah-masalah kebijakan luar negeri. Jelas Wapres terpilih lebih mencerminkan adanya kesinambungan visi antara Obama dengan sang utusan ketimbang Albright dan Leah tadi.
Juga muncul pertanyaan, apakah ketidak-hadiran Obama di KTT tersebut sebagai hasil diskusi antara Obama dan Bush ? Maklum seminggu sebelumnya mereka sudah bertemu di Gedung Putih selama hampir dua jam.
Apapun alasannya, jelas Obama tidak menjadikan KTT G-20 sebagai pertemuan penting di negerinya yang harus diprioritaskan. Atau Obama belum siap.
Alhasil kehadiran kedua tokoh Albright dan Leah sebagai utusan Obama sekedar untuk memenuhi ruang sidang. Mereka tidak berkontribusi. Tidak maksimal buat semua pihak.
Inilah yang kemudian membuat banyak pihak yang berani menarik kesimpulan bahwa penyebab utama dari ketidak berhasilan KTT 20 justru karena peran counter productive (kontra produksi) dari pihak tuan rumah.
George Bush yang akan lengser 20 Januari 2009, tidak serius lagi mengurusi masalah penting. Sementara Barrack Obama yang diharapkan berbuat banyak dan pro aktif pada hakekatnya belum siap.
Kegagalam KTT G-20 sebuah pelajaran yang sangat mahal. Tapi, itulah konsekuensi masyarakat dunia yang masih terlalu berharap atau bergantung kepada AS. [Habis/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.