INILAH.COM, Jakarta - Capres PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, membuat terobosan berkampanye. Mega sudah berani menjual program 100 hari bila terpilih menjadi presiden lagi. Mega merobos gaya kampanye konvensional.
'Jualan' baru itu ditampilkan Mega dalam iklan hampir satu halaman di sebuah media cetak nasional, 18 November kemarin. Iklan tersebut disertai foto Mega dengan senyuman mengembang berikut lambang moncong putih serta angka 28.
Iklan tersebut melansir program 100 hari PDIP dan Megawati. Jargon iklan politik itu adalah 'Perjuangkan Sembako Murah'. Arti sembako murah pun dirinci. Sembako murah yang dimaksud PDIP adalah kenaikan harga sembako tidak melampaui kenaikan pendapatan masyarakat.
Ada 6 kebijakan yang ditawarkan Megawati untuk mencapai program harga sembako yang terjangkau tersebut. Pertama, menata kembali ketimpangan struktur penguasaan dan penggunaan tanah ke arah yang lebih adil. Kedua, mempercepat perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi. Ketiga, menyediakan pupuk dan bibit murah yang berkualitas.
Selanjutnya, meningkatkan operasi pasar untuk menurunkan harga sembako. Kelima, memperkuat koperasi petani, lumbung pangan dan membangun Bank Pertanian. Terakhir, mengendalikan impor sembako yang merugikan petani dan nelayan.
Iklan ini pun tidak lupa menyertakan data riset yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lingkaran Survei Indonesia. PDIP melansir data kenaikan harga sembako melampaui kenaikan daya beli masyarakat. Angka ini didapat dari BPS 2004-2008.
Sementara riset LSI yang dikutip adalah 80 persen rakyat menilai pemerintahan yang ada saat ini gagal mengendalikan harga sembako karena semakin tidak terjangkau. Iklan ini pun ditutup dengan ajakan PDIP dan Megawati secara halus untuk menyoblos Moncong Putih. "Dukungan Anda terhadap PDI Perjuangan dan Megawati di tahun 2009 menjadi syarat berhasilnya Program Harga Sembako yang Terjangkau."
Pariwara yang ditonjolkan PDIP ini memang terkesan ingin dilihat berbeda terutama dengan pesaing bebuyutan, Presiden SBY. SBY sebelumnya terlebih dulu menampilkan iklan capaian pemerintahan SBY. Gambar SBY berikut kader Partai Demokrat pun turut ditampilkan sebagai pemanis.
Sepintas ide iklan yang ditampilkan SBY memang mirip dengan apa yang dilakukan Mega 4 tahun lalu saat berkampanye. Sebagai incumbent, Mega juga dulu mengumandangkan 'apa yang telah dilakukan' dan 'pengalaman membuktikan'. Tetapi ternyata iklan itu tidak cukup untuk menyedot dukungan masyarakat untuk memilih Putri Sulung Bung Karno itu.
Capaian-capaian yang ditampilkan dalam iklan SBY antara lain perdamaian, kemiskinan, pelunasan utang IMF dan program-program bantuan seperti BOS, raskin, PNPM Mandiri. Tentu saja iklan SBY tidak luput dari protes. Partai Golkar, sebagai partner, mengkritik cara kubu SBY mengklaim semua kemajuan yang dilakukan pemerintah. Menurut partai berlambang beringin, kesuksesan itu bukan semata-mata hanya kerja SBY ataupun Partai Demokrat melainkan juga ada usaha Partai Golkar.
Pemilihan tema yang dekat dengan masyarakat bawah agaknya sengaja dipilih kubu Megawati. Sebab isu ini, berdasarkan hasil survei, cukup ampuh untuk memoncerkan popularitas. Tengok saja, Prabowo Subianto yang kian kinclong karena mengangkat tema yang terkait petani dan masyarakat bawah. Terlebih selama ini PDIP terkenal dengan partai wong cilik. Artinya, PDIP ingin menasbihkan diri sebagai partai pembela rakyat kecil.
Apa yang dilakukan Megawati ini boleh dinilai terobosan baru dalam beriklan politik. Mega dan PDIP berani 'lebih maju' dengan menawarkan program 100 hari. Moncong Putih tidak ingin membuat rakyat membeli kucing dalam karung. Sehingga harapannya, angka popularitas PDIP dan Megawati terus menanjak.
Prabowo memang dengan iklan politiknya memang juga sudah menawarkan program kerja yang akan dilakukan menyangkut petani. Hanya saja, jualan itu belum ditegaskan apakah akan dilakukan dalam 100 hari awal pemerintahan bila terpilih.
Sudah sepatutnya elit maupun partai politik lainnya mengikuti jejak Mega untuk menjual program 100 hari pemerintahan. Di satu sisi boleh saja sangsi dengan isi kampanye yang dilansir. Tetapi di sisi lain, jualan politik seperti Megawati ini memberikan pendidikan politik yang baru kepada masyarakat.
Pencerahan politik seperti yang dilakukan PDIP lebih dibutuhkan masyarakat ketimbang hanya sekadar menampilkan slogan ataupun wajah tokoh berpengaruh. Sah-sah saja membuat iklan dengan memunculkan vote getter. Tetapi, pemilih juga sepantasnya makin dibuat melek politik oleh parpol.[Bersambung/L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !