INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkulai lemas di zona merah. Ancaman sentimen negatif resesi global yang meruntuhkan bursa kawasan, tak mampu dilawan. Apalagi ditambah sentimen buruk terperosoknya saham Grup Bakrie di sesi pagi.
Pada perdagangan saham Rabu (19/11) IHSG ditutup anjlok 9,505 poin (0,8%) menjadi 1.180,357. Indeks LQ-45 turun 2,433 poin (1,07%) menjadi 224,066 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,498 poin (0,27%) menjadi 182,854.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka terpuruk 1,49% di level 1.172 dan terus merosot hingga sesi siang berada di level 1.166. Sentimen negatif masih menyelimuti bursa, meskipun indeks berhasil naik tipis namun tetap ditutup melemah di posisi 1.180.
Analis Sarijaya Sekuritas Danny Eugene mengatakan, memburuknya kondisi bursa dikarenakan melemahnya bursa regional dan global akibat meluasnya resesi ekonomi di beberapa negara.
Beberapa negara sudah mengkonfirmasi masuk dalam resesi, seperti Jepang, Hong Kong, dan Uni Eropa. Sementara itu, outlook ekonomi AS juga tidak menunjukkan adanya perbaikan. "Belum adanya sentimen positif yang dapat mendongkrak bursa, sehingga IHSG berada dalam tekanan ke bawah," ujarnya.
Perusahaan-perusahaan otomotif raksasa di AS saat ini sedang melobi Gedung Putih agar memperoleh dana bailout seperti di sektor finansial. Hal ini cukup mengkhawatirkan pasalnya bila industri otomotif AS ambruk, diprediksikan jutaan pekerja AS di PHK.
Sementara itu, anjloknya saham-saham Grup Bakrie dan terkena auto rejection pada sesi pertama menyusul peristiwa gagal bayar utang repo, memperburuk kondisi bursa saham.
Saham PT Bakrie & Brothers (BNBR) turun 9,92%, PT Energi Mega Persada (ENRG) turun 9,52%, PT Bumi Resources (BUMI) turun 9,47%, PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) turun 9,09% dan PT Bakrie Telecom (BTEL) turun 3,64%.
Tren menurunnya harga minyak dari rekor tertingginya di US$ 147 per barel dan jatuhnya harga komoditas, membuat saham sektor ini kurang diminati. Di pasar Asia, kontrak harga minyak mentah Nymex untuk Desember naik 7 sen (0,2%) menjadi US$ 54,46, setelah dini hari tadi ditutup turun 56 sen di US$ 54,39 per barel.
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi sebanyak 33.434 kali, dengan volume 2,011 miliar unit saham, senilai Rp 1,304 triliun. Sebanyak 42 saham naik, 107 saham turun dan 51 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi Rp 600 ke level Rp 7.500, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 menjadi Rp 5.550, serta saham PT Indosat (ISAT) terkoreksi Rp 225 ke posisi Rp 4.100.
Demikian pula saham PT United Tractors (UNTR) turun Rp 150 menjadi Rp 3.475, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 125 menjadi Rp 2.850, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 60 menjadi Rp 1.480 dan PT Astra Internasional (ASII) turun Rp 50 menjadi Rp 8.500.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Gudang Garam (GGRM) naik 250 ke level Rp 4.650, PT Unilever (UNVR) naik 150 ke Rp 8.000, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 125 menjadi Rp 2.750, juga saham PT International Nickel (INCO) naik 110 menjadi 1890.
Sementara saham perkebunan PT Astra Argo Lestari (AALI) mengalami kenaikan Rp 100 ke level Rp 6.700, PT London Sumatera (LSIP) naik Rp 50 ke level Rp 2.350 dan Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 5.600.
Jatuhnya IHSG juga dipicu melemahnya bursa kawasan. Indeks STI di bursa Singapura turun 27,37 poin (1,62%) ke level 1665.18, dengan mayoritas saham blue chips berada dalam teritori negatif. Sementara indeks KLCI di bursa Malaysia turun 5,92 poin (0,67%) pada level 877,17 dipicu maraknya aksi profit taking.
Bursa Jepang ditutup melemah dipicu kuatnya yen dan kekhawatiran terhadap dampak potensi anjloknya sektor industri otomotif. Indeks Nikkei turun 55,19 poin (0,7%) pada level 8.273,22, sedangkan indeks Topix turun 8,01 poin (1%) pada level 827,43.
Indeks Shanghai Composite di bursa China justru naik 115,04 poin (6,05%) pada level 2.017,47 dipimpin kenaikan Sinopec sebesar 10%. Namun, indeks Hang Seng di bursa Hong Kong justru turun 100,09 poin (0,77%) ke level 12.815, 8.
Indeks Taiex di bursa Taiwan turun 0,5% pada level 4.284,09, dipicu melemahnya performa perusahaan bluechips. Indeks Sensex di bursa India naik 38,8 poin (0,43%) pada level 8.976,0 akibat aksi bargain buying, pasca penurunan 15% pada lima sesi terakhir.
Kemudian indeks Kospi di bursa Korea turun 19.34 poin (1.9%) pada level 1.016.82, setelah sempat menembus di bawah level 1.000, tepatnya di level 994.57, pertama kalinya sejak 30 Oktober lalu. Pelemahan dipicu turunnya sektor perbankan akibat aksi profit taking. [E1]