INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level 12 ribu per dolar AS. Tertekannya mata uang Indonesia ini dipicu aksi beli dolar yang terus berlanjut, seakan mengabaikan imbauan BI untuk melepas mata uang dolar AS itu.
Pada perdagangan rupiah di pasar spot antar bank Jakarta, Rabu (19/11) rupiah ditutup melemah 440 poin ke posisi 12.190 per dolar AS dari penutupan kemarin di level 11.750. Rupiah sempat melemah hingga ke level 12.450 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga mengatakan, rupiah bisa tembus angka 12 ribu per dolar AS, akibat aktifnya pelaku pasar memburu dolar AS, meski kenaikan mata uang asing itu dinilai sudah cukup tinggi.
"Terpuruknya rupiah karena kondisi pasar yang makin negatif, dan tidak ada faktor pendukung yang mendorong rupiah untuk bisa bergerak naik," kata Edwin.
Menurutnya, faktor utama terjadi tekanan itu adalah karena di AS sendiri kebutuhan akan dolar sangat tinggi, setelah negara Paman Sam itu mengalami krisis kredit bermasalah sektor perumahan (subprime mortgage) yang berlanjut hingga menjadi krisis keuangan global.
"Keterpurukan rupiah itu memang tidak sendirian, hampir semua mata uang utama Asia juga terpuruk terhadap dolar AS, meski negara pemilik dolar sedang mengalami krisis," katanya.
Jadi masalah global ini, lanjut dia, tidak bisa diatasi masing-masing negara dengan sendiri-sendiri. Mereka harus bersatu mengatasi gejolak krisis keuangan global. Ia pun menyarankan agar para ketua bank sentral setiap negara melakukan pembahasan dan mencari solusinya sehingga masalah ini tidak berlangsung dalam waktu yang lama.
Edwin memprediksi rupiah masih akan melemah, meski diharapkan tidak akan dapat melewati angka 15 ribu per dolar AS seperti posisi rupiah saat krisis ekonomi pertama di Indonesia pada 1997. "Sulit untuk menahan gejolak pasar yang terus meningkat, karena pasar saat ini didominasi aksi beli dolar AS," katanya.
Di sisi lain, Menkeu Sri Mulyani mengatakan bahwa penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang lokal negara lain termasuk rupiah, bukan karena terbatasnya pasokan dolar, namun karena para pelaku valas belum percaya diri melakukan perdagangan (trading).
"Jadi anjloknya mata uang negara-negara berkembang saat ini karena tidak ada transaksi dolar akibat tidak adanya confidence dari para pelaku pasar," ujar Sri yang juga Plt Menko Perekonomian.
Oleh karena itu, dalam pertemuan menteri keuangan di Washington dan Sao Paulo pekan lalu, disepakati bahwa hal terpenting yang harus segera dilakukan adalah mengembalikan masyarakat agar percaya diri untuk bertransaksi. Sehingga kebutuhan dolar AS di pasar bisa terpenuhi.
"Pertama yang dilakukan adalah mengembalikan confidence supaya transaksi jalan. Kalau tidak, semua yang pegang dolar akan hold. Disuplai berapa pun nggak akan cukup, orang nggak mau tukar dolar," tambahnya.
Sementara itu, rupiah sore ini terpantau berada di level 7.784,45 atas dolar Singapura, di level 15.010,08 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.670,74 atas dolar Australia. [E1]