INILAH.COM, Jakarta - Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Sutan Bathoegana menegaskan, Indonesia sudah cukup memiliki pengalaman pahit ketika meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1997/1998.
"Apa yang terjadi setelah itu? Kita tahu bersama, bukan ekonomi kita pulih, justru memburuk. Nyaris membuat kita jatuh dalam kebangkrutan," katanya di DPR, Rabu (19/11).
Hal itu diungkapkan Bathoegana, menanggapi pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa Pemerintah RI telah memiliki kebijakan ekonomi alternatif tanpa harus mengikuti pola IMF.
Bathoegana mengemukakan, berdasarkan pengalaman tahun 1997-1998 itu, SBY membuat langkah pengamanan ekonomi internal dengan memanfaatkan cadangan devisa. Apalagi, kata Sutan, angka cadangan devisa saat ini terbesar sejak Orde Baru, yaitu sekitar US$50 miliar.
"Selain itu, Presiden Yudhoyono membuat langkah untuk mengajak semua komponen masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi krisis keuangan global yang melanda dunia dan berpengaruh terhadap Indonesia," katanya.
Ternyata, kata dia, terapi tersebut dianggap berhasil sampai saat ini. Karena itu, cukup bagi Indonesia memiliki pengalaman pahit dengan IMF. [*/nuz]