Minggu, 27 Mei 2012 | 04:23 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ayo Koleksi Saham Bank & BUMN
Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria & Natascha
web - Kamis, 20 November 2008 | 06:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (20/11) diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. Namun, beberapa saham masih direkomendasikan, seperti BBRI, BBCA, BMRI dan sejumlah saham BUMN.
Analis pasar modal Muhammad Alfatih mengatakan, terkoreksinya indeks saham yang disebabkan tekanan jual saham Grup Bakrie masih akan berlanjut pada perdagangan hari ini. Salah satu penyebabnya adalah belum terealisasinya program buyback sebesar 17% saham BUMI.
"Sampai buyback dilakukan, tekanan jual saham BUMI masih tinggi, sehingga IHSG masih berat untuk naik," papar Alfatih, dalam keterangannya kepada INILAH,COM, di Jakarta, semalam.
Ia memaparkan, secara teknikal, IHSG gagal membentuk harga tertinggi bahkan justru membentuk lower low. Indeks saham, menurutnya, baru masuk area oversold. Ini berarti, IHSG masih berpeluang bergerak turun. "IHSG saat ini sedang menguji level 1.100," tambahnya.
Sementara itu analis Indosurya, Akbar Kuncoro mengatakan, IHSG bisa dikatakan rebound kalau penguatan yang dialaminya diiringi dengan volume beli yang kuat. "Saat itu, baru bisa dikatakan tren jangka pendek berubah," ujarnya.
Lebih lanjut ia memaparkan, dari sisi fundamental potensi penguatan memang masih terbuka, terutama dari saham unggulan BUMN dan perbankan. Saham BUMN masih menarik, karena investor akhirnya menyadari bahwa perusahaan pelat merah dalam situasi apapun masih harus membagikan labanya.
Selain itu, cash flow sejumlah BUMN juga dinilai masih cukup kuat. "Investor bisa mengharapkan pembagian dividen dari BUMN," tambahnya. Sedangkan saham perbankan dinilai berpotensi menguat, terutama karena adanya prediksi bahwa pergerakan suku bunga hingga akhir tahun, tidak akan lebih dari dua digit.
Kendati ada kemungkinan tekanan inflasi yang disebabkan nilai tukar, namun kemungkinan pemangkasan suku bunga BI rate masih lebih besar. "Bulan depan, konsensus pasar memperkirakan BI akan menurunkan suku bunganya," ulasnya.
Dalam kondisi seperti ini, lanjutnya, emiten yang paling diuntungkan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Hal ini terkait kuatnya likuiditas perseroan dibandingkan bank lain. Ini berarti, kalau BI memangkas suku bunganya, Bank BRI paling cepat melakukan penyesuaian penurunan suku bunga, baik deposito maupun suku bunga kredit.
Selain Bank BRI, ada beberapa bank lain yang mendapat rekomendasi positif terkait ekspektasi penurunan BI rate. "Ada dua bank lain yang masih menarik dikoleksi kalau BI rate turun, yaitu BBCA (PT Bank Central Asia) dan BMRI (PT Bank Mandiri)," tambahnya.
Adapun saham BUMN yang menurut Akbar masih menarik untuk diakumulasi adalah PT Telkom (TLKM), PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), PT Timah (TINS) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS). Emiten pelat merah ini berorientasi pasar domestik, sedangkan kebutuhan pasar lokal diperkirakan masih meningkat di masa mendatang.
Sementara itu, meskipun ada tekanan dari nilai tukar rupiah yang menyebabkan kewajiban jangka panjang dalam dolar AS meningkat, namun sebagian besar perusahaan sudah melakukan lindung nilai (hedging).
"Alhasil, masalah pembayaran pinjaman jangka panjang dan pendek denominasi dolar AS, tidak akan berpengaruh pada pembayaran perusahaan," paparnya.
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (19/11) mencatat transaksi sebanyak 33.434 kali, dengan volume 2,011 miliar unit saham, senilai Rp 1,304 triliun. Sebanyak 42 saham naik, 107 saham turun dan 51 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi Rp 600 ke level Rp 7.500, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 menjadi Rp 5.550, serta saham PT Indosat (ISAT) terkoreksi Rp 225 ke posisi Rp 4.100.
Demikian pula saham PT United Tractors (UNTR) turun Rp 150 menjadi Rp 3.475, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 125 menjadi Rp 2.850, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 60 menjadi Rp 1.480 dan PT Astra Internasional (ASII) turun Rp 50 menjadi Rp 8.500.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Gudang Garam (GGRM) naik 250 ke level Rp 4.650, PT Unilever (UNVR) naik 150 ke Rp 8.000, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 125 menjadi Rp 2.750, juga saham PT International Nickel (INCO) naik 110 menjadi 1890.
Sementara saham perkebunan PT Astra Argo Lestari (AALI) mengalami kenaikan Rp 100 ke level Rp 6.700, PT London Sumatera (LSIP) naik Rp 50 ke level Rp 2.350 dan Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 5.600. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.