INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (20/11) diperkirakan masih melemah. Bank-bank besar lebih memilih membeli dolar AS daripada memberi pinjaman kepada bank kecil yang kesulitan likuiditas hingga ada blanket guarantee.
Analis Central Asset Future Ade Yunus mengatakan, secara teknikal, rupiah masih berada dalam range trading dengan kisaran di atas 12 ribu per dolar AS. Level 12.170 menjadi titik resistan bagi rupiah.
Namun, dengan potensi menguatnya dolar AS, kalau level 12.170 tertembus, maka rupiah berpotensi ke level 1.280 per solar AS. "Rupiah hari ini akan berada di kisaran 12.050-12.170 per dolar AS," papar Ade Yunus, kepada INILAH.COM, di Jakarta, semalam.
Menurut Ade, tanda-tanda rupiah akan menuju ke kisaran 12 ribuan, sebenarnya sudah terlihat saat masih di level 9.470-9.710 per dolar AS. Bahkan, lanjutnya, ketika rupiah masih di bawah level 10 ribu, potensi rupiah menuju 12 ribu sudah terlihat. "Jadi, bukan tidak mungkin rupiah akan menuju level 12.800 kan," tambahnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, dari faktor suplai dan demand ada kemungkinan terjadi supply shortage (kurang pasokan) sehingga mengarahkan rupiah ke level 12.800 dolar AS. "Hal ini terutama dipicu ketatnya likuiditas valas dan rupiah di pasar uang antar bank," katanya.
Sementara itu, seorang bankir bank lokal menuturkan kondisi sebenarnya yang terjadi di pasar uang domestik. Menurutnya, saat ini bank-bank kecil kesulitan likuiditas akibat adanya perang bunga. Namun, bank-bank besar yang punya ekses likuditas besar tidak mau memberikan pinjaman karena khawatir akan kemampuan membayar bank-bank kecil tersebut.
Lebih lanjut ia mengungkapkan saat ini, ekses likuiditas di bank besar justru dikonversi ke dolar AS. "Hal ini yang mengakibatkan terjadinya aksi buru dolar AS yang besar di kalangan perbankan," ulasnya.
Bankir tersebut mengatakan, bahwa bank-bank besar lebih memilih membeli dolar AS selama tidak ada blanket guarantee (penjaminan menyeluruh), terutama untuk transaksi pasar uang antar bank. "Maka shortage supply valas akan terjadi terus di transaksi antar bank, dan ini akan menekan rupiah," jelasnya.
Bank sentral sebelumnya sudah meminta agar pemerintah menjamin simpanan masyarakat di bank, dan juga kewajiban bank lainnya seperti letter of credit atau pinjaman di pasar uang antarbank.
Saat ini, melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pemerintah hanya menjamin simpanan nasabah di bank maksimal Rp 2 miliar. Namun, Wapres Jusuf Kalla belum menyetujui adanya blanket guarantee bagi dana pihak ketiga (DPK) dan transaksi uang antar bank karena khawatir disalahgunakan.
Di sisi lain, Bank Indonesia baru menganjurkan masyarakat untuk menjual dolar AS nya ke rupiah, mengingat nilai tukarnya yang sudah tinggi. Saran ini dikeluarkan untuk melonggarkan ketatnya likuiditas dolar di pasar.
Terkait hal ini, pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono menilai imbauan ini tidak akan efektif untuk menahan pelemahan rupiah saat ini, meski diakui sebagai Gubernur BI, Boediono memang harus melakukan imbauan (moral suasion) seperti itu
Menurut Tony, BI saat ini dihadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan. Sebab kemampuan BI dalam melakukan intervensi terus menerus terhadap rupiah akan menggerus cadangan devisa yang telah memasuki tahap 'lampu kuning'.
"BI juga harus lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi, karena cadangan devisanya menipis menjadi US$ 50,5 miliar, padahal Juli lalu masih di US$ 60 miliar, jadi harus sangat berhati-hati," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini manuver kebijakan BI tidak akan efektif dalam meredam pelemahan rupiah. Namun diperlukan langkah pemerintah untuk menaikkan jaminan menjadi blankeet guarantee.
"Yang sekarang kita harapkan bukan manuver moneter oleh BI, tapi blanket guarantee oleh pemerintah. Ini akan lebih efektif meredam kemerosotan kurs rupiah," katanya.
Pada perdagangan rupiah di pasar spot antar bank, Rabu (19/11) rupiah ditutup melemah 440 poin ke posisi 12.190 per dolar AS. Demikian pula nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya.
Rupiah terhadap dolar Singapura melemah ke 8.019,12, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.580,64, terhadap dolar Australia melemah ke 7.912,28 , dan atas euro ditutup melemah ke level 15.440,52. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !