INILAH.COM, Jakarta - Semakin lama semakin suram saja kondisi Bursa Efek Indonesia (BEI), karena bursa lokal sangat terpengaruh oleh situasi eksternal, terutama Amerika, yang kini semakin ambruk.
Pada perdagangan Kamis ini (20/11), pelemahan harga saham sepertinya akan terus berlanjut setelah indeks Dow Jones anjlok lebih dari 400 poin semalam.
Anjloknya indeks di Wall Street itu dipicu oleh proyeksi Federal Reserve yang menurunkan estimasi aktivitas ekonomi hingga akhir tahun ini dan tahun depan.
Selain itu, pasar juga nervous dengan belum tercapainya kata sepakat terkait dengan permintaan bailout sektor otomotif senilai US$ 25 miliar dari pemerintah AS.
Sentimen itu membuat indeks Dow Jones anjlok 426,99 poin, atau 5,07%, menjadi 7.997,76. Sementara indeks Standard & Poor's 500 ambruk 52,18 poin, atau 6,07%, menjadi 806,94. Untuk indeks Nasdaq juga melorot 96,85 poin, atau 6,53%, menjadi 1.386,42.
Sentimen negatif lainnya datang dari pasar minyak setelah harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Desember kembali melorot dan bertengger di bawah level US$ 54 per barel, level terendah sejak Januari 2007.
Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif penurunan saham-saham emiten kelompok Bakrie juga akan mempengaruhi pergerakan harga saham hari ini.
Namun, proyeksi bakal ada penurunan sukubunga acuan BI, akan membuat sektor perbankan sedikit bergeliat di tengah ketatnya likuiditas saat ini. Untuk itu, saham-saham seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Danamon (BDMN), Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BBCA) diharapkan mampu memberikan sumbangan, paling tidak dapat menahan agar indeks tidak sampai anjlok terlalu dalam.
Selain itu, harapan juga datang dari sektor konsumer. Sektor ini dalam tiga hari perdagangan selalu berada di zona hijau. Sementara sektor yang paling parah mengalami kejatuhan masih sektor tambang dan agribisnis.
Sementara itu, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (19/11) mencatat transaksi sebanyak 33.434 kali, dengan volume 2,011 miliar unit saham, senilai Rp 1,304 triliun. Sebanyak 42 saham naik, 107 saham turun dan 51 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi Rp 600 ke level Rp 7.500, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 menjadi Rp 5.550, serta saham PT Indosat (ISAT) terkoreksi Rp 225 ke posisi Rp 4.100.
Demikian pula saham PT United Tractors (UNTR) turun Rp 150 menjadi Rp 3.475, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 125 menjadi Rp 2.850, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 60 menjadi Rp 1.480 dan PT Astra International (ASII) turun Rp 50 menjadi Rp 8.500.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Gudang Garam (GGRM) naik 250 ke level Rp 4.650, PT Unilever (UNVR) naik 150 ke Rp 8.000, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 125 menjadi Rp 2.750, juga saham PT International Nickel (INCO) naik 110 menjadi 1890.
Sementara saham perkebunan PT Astra Argo Lestari (AALI) mengalami kenaikan Rp 100 ke level Rp 6.700, PT London Sumatera (LSIP) naik Rp 50 ke level Rp 2.350 dan Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 5.600.[tra]