INILAH.COM, Jakarta Para calon presiden mulai berguguran seperti bunga layu sebelum mekar. Mereka seperti ayam sayur. Gagah menantang, tapi kuyu saat hendak masuk ke gelanggang. Mereka hanya sekadar cari popularitas?
Para calon presiden, utamanya yang datang dari jalur independen, satu-persatu mundur dari gelanggang. Pasalnya, pasar politik memberikan nilai tawar terhadap mereka dengan angka yang datar. Apalagi, para capres itu terkendala soal waktu, energi, maupun modal.
Capres muda dengan kode simbolik RM09, yakni Rizal Mallarangeng, misalnya, gugur sebelum bertempur. Dia secara resmi menyatakan mundur dari bursa calon presiden pada Pilpres 2009.
Iklan televisi yang sempat gencar dilakukannya tidak mampu mendongkrak tingkat keterpilihan dalam pemilu (elektabilitas). Rizal berhitung tak bisa bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono atau Megawati Soekarnoputri.
Ada juga kabar bahwa mundurnya Rizal karena dananya juga tergerus dan menipis untuk beriklan. Apalagi, hingga kini, tak ada parpol besar yang serius melamarnya.
Beberapa pengamat melihat gaya kenes dan genit Rizal belum mampu menyentuh nurani publiknya. "Rizal Mallarangeng malah dinilai gila popularitas. Kritik ini juga harus dia dengar," kata mantan aktivis GMNI, Bob R Randilawe dalam suatu diskusi.
Soal mundurnya Rizal, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani menyampaikan, Rizal membutuhkan waktu lebih lama untuk mengejar SBY maupun Mega. Butuh waktu 6-7 bulan bagi Rizal untuk mengejar tingkat keterkenalan hingga 90%. Dan itu tidak mungkin dilakukan karena Pemilu sudah dekat.
Mengenai tingkat elektabilitas Rizal di mata publik, Saiful mengungkapkan bahwa Rizal sekelas dengan Sutiyoso. Elektabilitasnya amat rendah. Memang menyedihkan.
Demikian halnya Din Syamsuddin yang sempat diusung oleh Partai Matahari Bangsa (PMB). Kapal PMB itu konon bocor di sana-sini dan para aktornya main mata ke sana ke mari.
Akibatnya, Din gamang dan terdiam menanti. Meski Ketua Umum PP Muhammadiyah itu belum memastikan mundur sebagai capres 2009, isyaratnya sudah kuat: belum ada partai politik besar atau bertenaga potensial, yang secara resmi menawarkan dukungannya kepada tokoh ormas Islam ini.
Din memutuskan belum tentu maju pada Pilpres 2009. Hal ini bisa juga dibaca bahwa dia sudah setengah kandas atau nyaris gugur sebelum bertempur.
Perhelatan Pilpres 2009 boleh jadi hanya akan diwarnai tiga atau empat kandidat presiden yang memiliki kapital politik maupun ekonomi dalam skala memadai. Mereka yang coba-coba atau trial and error seperti Slamet Soebijanto (mantan KSAL), Sutiyoso dan Arifin Panigoro (yang konon berminat jadi cawapres Sultan HB X), bisa saja terjengkang dan jadi kecundang sebelum perang. Maklum, medan tempurnya begitu keras dan garang.
"Ketiga nama itu santer beredar mau maju, namun bisa jadi gugur sebelum bertempur," kata seorang analis politik yang enggan disebut namanya.
Mungkin tinggal nama-nama populer dan besar yang muncul seperti SBY, Megawati, Sultan Hamengkubuwono X, Jusuf Kalla, Prabowo, Rizal Ramli, Wiranto dan lainnya. Mereka memiliki kuda tunggang politik yang jelas.
SBY diusung Partai Demokrat, Megawati oleh PDI-P, Kalla dari Golkar, Sultan oleh Partai RepublikaN dan sebagian Golkar, Prabowo oleh Gerindra (serpihan Golkar), Rizal Ramli oleh PBR (serpihan PPP), dan Wiranto oleh Hanura (serpihan Golkar).
Banyak figur yang secara popularitas mengalami peningkatan, tetapi secara elektabilitas sulit mengejar senior-senior seperti SBY dan Megawati. Namun demikian, munculnya para tokoh alternatif akan memeriahkan Pilpres 2009 dengan pilihan-pilihan alternatif, dimana rakyat dapat melampiaskan hasrat,dan aspirasi sesuai hati nurani. [I4]