Sabtu, 26 Mei 2012 | 03:33 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Beli Komputer Gunakan Rupiah!
Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Budi Winoto
web - Kamis, 20 November 2008 | 15:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Gejolak valuta asing menyebabkan perdagangan produk TI membingungkan. Saat dolar melambung, penjualan langsung lesu, karena konsumen menahan pembelian. Agar hal ini tidak berulang, semua transaksi sebaiknya menggunakan rupiah.
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Hidayat Tjokrodjojo mengatakan, permasalahan turunnya penjualan komputer serta produk teknologi informasi (TI) lainnya selalu terjadi saat dolar melambung. Seperti yang terjadi saat krisis menerpa Indonesia pada 1998, ketika penjualan produk TI dilakukan dengan dolar.
Saat dolar melambung dalam sebulan terakhir ini, penjualan komputer kembali terhempas. Salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah mengganti transaksi penjualan TI dari dolar ke rupiah. Kritisnya likuiditas menjadi momentum untuk kembali menggunakan rupiah dalam transaksi produk TI.
"Tiap kali dolar naik, selalu ribut penjualan komputer turun. Jika transaksi dilakukan dengan rupiah, maka berapapun nilai tukar dolar penjualan tidak terpengaruh," papar Hidayat, di Jakarta, kemarin.
Untuk implementasinya, Hidayat mengatakan tidak sulit. Untuk dealer yang biasa membayar dengan dolar, tinggal mengganti dengan rupiah. Sementara distributor yang mendatangkan produk TI dari luar negeri harus menanggung resiko lebih besar karena gejolak kurs.
"Memang harus berani mengambil resiko. Tapi distributor melakukan pembelian dalam jumlah besar dan melakukan persedian dalam jangka waktu lama sehingga bisa diatur," katanya.
Hidayat mengatakan kebutuhan dolar untuk transaksi di produk TI sangat besar. Jika masih menggunakan dolar, maka tekanan terhadap rupiah sedikit banyak akan terus terjadi sampai kapanpun. "Kita juga harus menjaga agar mata uang rupiah kita stabil," tegasnya.
Hidayat mengatakan kurs ideal agar penjualan produk TI lancar adalah di kisaran 9.000. Nilai tukar di kisaran 10 ribu masih dapat diterima, namun lebih dari itu pasti akan menimbulkan perlambatan penjualan. Terutama dari sektor bisnis, jika sudah menganggarkan dolar pasti akan membeli. Tapi jika belum kemungkinan besar pasti ditunda.
Dalam situasi dolar yang melambung, tidak ada yang bisa dilakukan. Hidayat mengatakan usaha maksimal yang bisa dilakukan hanya membicarakan berapa rate dolar yang bisa diterima antara pihak penjual dan pembeli.
General Manager PT Multicom Persada International produsen komputer merek Mugen Sutiono Gunadi mengatakan jika transaksi TI di dalam negeri harus dengan rupiah implementasinya sulit.
Indonesia sudah terbiasa melakukan transaksi dengan dolar. Selain itu semua produk TI dibeli dengan dolar, untuk mengurangi resiko naiknya kurs maka produk TI juga dipasarkan dengan dolar.
Menurut Sutiono meskipun dolar melonjak tinggi, permintaan produk TI tidak surut. Kalaupun terjadi kelesuan permintaan TI akibat bergolaknya kurs biasanya tidak berlangsung lama. Bahkan ia mengaku tidak masalah jika dolar menguat hingga 13 ribu asalkan pemerintah bisa menjaganya tidak naik turun sehingga tidak ada kepastian.
"Kalau situasinya dolar tidak stabil, malah tidak ada kepastian. Dolar naik tidak masalah, asalkan jangan sampai Rp 16 ribu karena pasti kelimpungan. Pemerintah harus menjaga agar rupiah stabil," katanya.
Senada dengan Sutiono, dealer komputer juga terbiasa dengan aturan menjual produk TI dengan dolar. Person in Charge LCD Gallery Potcian mengatakan distributor menjual produknya dengan dolar, maka dealer mau tak mau juga menjual produk komputer ke konsumen dengan dolar.
Dealer, kata Potcian sering mendapat bantuan dari distributor. Misalnya saat pameran, dealer mendapat harga khusus dengan dolar dipatok lebih rendah dari kurs yang berlaku pada hari itu.
Meskipun dari sisi keuntungan menjadi sangat kecil, namun upaya distributor yang mematok dolar di bawah harga pasaran sangat membantu. Terutama memberi efek psikologis pada konsumen, bahwa harga yang ditetapkan terlihat menjadi lebih murah. Mungkin distributor tidak sampai rugi, tapi keuntungannya memang sangat tipis. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.