INILAH.COM, Jakarta - Ancaman segelintir orang terhadap film Lastri mengajarkan faham komunis, disayangkan Eros Djarot, penulis sekaligus sutradaranya. Adanya ancaman dan demi keamanan, Eros menghentikan syuting yang sudah berlangsung 2 hari di Surakarta, Jawa Tengah.
"Adanya tuduhan dan ancaman segelintir orang yang mengatakan film Lastri mengajarkan faham komunisme, membuat kami mengambil langkah dan tindakan untuk menghentikan proses syuting film Lastri yang sudah berlangsung 2 hari kemarin di Surakarta," jelas Eros Djarot penulis dan sutradara film Lastri, didampingi Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Titi Said dan pemeran utama wanita, marcella Zalianty, di Kantor LSF, lantai 7, Jalan MT. Haryono, Jakarta Selatan, Kamis sore (20/11).
Kejadian yang tidak diinginkan Eros Djarot ini, jelas merugikan dirinya dan banyak pihak yang terlibat sebagai tim produksi. "Tidak ada ajaran komunisme di Lastri. Film ini hanya menjadikan buku berjudul Perempuan Tragedi 65 karya Ita, sebagai refrensi saja, bukan menyadur habis isinya. Ini jelas menggangu proses kerja dan kreatifitas saya dan yang lainnya, sebagai pekerja seni," ujar Eros dengan nada yang sedikit agak meninggi.
Ditambahkannya, "Ini sudah pencemaran luar biasa. Kami sangat prihatin sekali. Kebebasan kami berekspresi benar-benar tidak terjamin. Jadi untuk sementara kami hentikan dulu syutingnnya. Tentunya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pihak keamanannya sendiri saja tidak bisa berbuat apa-apa."
Namun demikian, Eros Djarot dan tim produksi film Lastri tidak serta merta berputus asa. "Dihentikannya proses syuting hanya untuk sementara waktu saja. Nantinya akan terus dilanjutkan. Untuk kami, kreatifitas seni tidak bisa diganggu dengan apa pun," kata Eros.[aji]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !