INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi ditutup anjlok. Minimnya sentimen positif serta perekonomian dunia yang terancam resesi berkepanjangan memicu tekanan jual. Saham Grup Bakrie pun kembali ikut menyeret indeks saham.
IHSG pada perdagangan Kamis (20/11) ditutup melemah di level 1.154,97 atau turun 25,39 poin (2,15%). Indeks LQ-45 turun 5,685 poin (2,54%) menjadi 218,381 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 2,583 poin (1,41%) menjadi 180,271.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka anjlok 3,08% di level 1.144 dan sesi siang masih stagnan di kisaran negatif. Meski merambat naik pada sesi kedua hingga ditutup di level 1.154, namun indeks saham masih berada di zona merah.
Analis Optima Securities Ikhsan Binarto mengatakan, indeks masih melemah akibat ancaman krisis global yang meningkat, sementara sentimen positif masih sangat minim di pasar. "Investor masih khawatir tentang kondisi pasar, hal ini memicu tingginya tekanan jual," katanya.
Ancaman krisis global juga terlihat dari prediksi bank sentral AS, Federal Reserve yang memangkas prediksi pertumbuhan sebanyak 0,2% pada 2009. Indeks Dow Jones pun dini hari tadi anjlok 5,1% ditutup di bawah level 8.000, terendah sejak Maret 2003.
Investor khawatir akan krisis lembaga keuangan dan prediksi kolapsnya industri mobil jika pemerintah AS tidak memberikan bailout. Indikator perekonomian AS juga terus menunjukkan penurunan.
Data Housing Start turun 4,5% ke level 791.000, terendah sejak akhir 1940-an dan indeks Consumer price (CPI) Oktober turun menjadi 3,7%, rekor terendah sejak 1947.
Sentimen pasar regional pun sangat negatif, dimana bursa Asia tertekan setelah Jepang melaporkan penurunan ekspor 7,7% year in year (YoY), terendah dalam 6 tahun terakhir.
Indeks Shanghai Composite di bursa China turun 33,71 poin (1,67%) pada level 1.983,76 setelah sempat berhasil menyentuh level terendah di 1.956,73. Sementara indeks Hang Seng di bursa Hong Kong turun 517,24 poin (4,04%) ke level 12.298,56.
Indeks KLCI di bursa Malaysia turun 14,9 poin (1,7%) ke level 862,75, indeks STI di bursa Singapura turun 47,18 poin (2,83%) ke level 1,618.41 dan indeks Sensex di bursa India turun 340,26 poin (3.88%) pada posisi 8.433,52, dipicu maraknya aksi jual sektor finansial.
Sementara bursa Jepang ditutup melemah dipicu anjloknya saham-saham eksportir, perusahaan finansial dan real estate. Indeks Nikkei turun 570,18 poin (6,9%) menjadi 7.703,04 basis poin dan indeks Topix turun 45,15 poin (5,5%) pada level 782,28. Indeks Kopsi Korea juga turun 68,13 poin (6,7%) menjadi 948,69 basis poin.
Emiten grup Bakrie juga memberi tekanan pada pasar domestik. Saham PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 80 (9,3%) menjadi Rp 780, PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) turun Rp 25 (10%) menjadi Rp 225, Bakrie & Brothers (BNBR) turun Rp 11 (9,32%) menjadi Rp 107, dan PT Energi Mega Persada (ENRG) turun Rp 25 (8,77%) menjadi Rp 260.
Demikian pula saha Grup Bakrie lainnya, PT Bakrie Telecom (BTEL) turun Rp 1 (1,89%) menjadi Rp 52 dan PT Bakrieland Development (ELTY) stagnan Rp 66. "Masih banyak investor yang berusaha melikuidasi aset saham Grup Bakrie akibat sentimen negatif gagal bayar dalam transaksi Repo," papar Ikhsan.
Selain itu saham berbasis komoditas seperti pertambangan dan perkebunan juga melemah karena merosotnya kembali harga minyak lima hari berturut-turut. Hal ini dipicu kekhawatiran penurunan permintaan minyak mentah, yang ditunjukkan merosotnya tingkat konsumsi BBM AS selama empat pekan terakhir, sebesar 7% menjadi 19,1 juta barel per hari.
Di pasar Asia, kontrak minyak Nymex bulan Desember turun 69 sen (1,2%) di level US$ 52,93 setelah pada penutupan perdagangan dini hari tadi berada di US$ 53,62 per barel.
Perdagangan di seluruh lantai bursa mencatat transaksi 30.390 kali dengan volume 4,042 miliar unit saham, senilai Rp 1,038 triliun. Sebanyak 27 saham menguat, 120 melemah, 42 stagnan, dan 268 stagnan.
Saham-saham yang mengalami pelemahan antara lain PT Schering Plough Indonesia (SCPI) yang ditutup melemah Rp 1.550 ke level Rp 14.200, PT Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 1.000 menjadi Rp 20.000, PT Indo Tambangraya Megah terkoreksi Rp 500 di posisi Rp 7.000 serta PT United Tractors (UNTR) melemah Rp 325 menjadi Rp 3.150.
Demikian pula saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) yang ditutup turun Rp 300 di posisi Rp 5.250, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 250 menjadi Rp 2.600, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 140 menjadi Rp 1.340, dan PT Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 50 menjadi Rp 2.700.
Sedangkan saham yang menjadi top gainer antara lain PT Indosat (ISAT) naik Rp 250 menjadi Rp 4.350, PT Telkom (TLKM) yang naik Rp 150 menjadi Rp 5.750, PT Darya Varia Laboratoria (DVLA) naik Rp 140 menjadi Rp 890, dan PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) yang naik Rp 110 menjadi Rp 950. [E1]