INILAH.COM, Yerusalem - Sejumlah organisasi media internasional memprotes Israel atas pelarangan terhadap wartawan memasuki Jalur Gaza selama hampir dua pekan ini. Pernyataan media melalui surat disampaikan kepada PM sementara Ehud Olmert yang menyatakan 'keprihatinan mendalam'.
Surat itu, yang ditandatangani Kamis (20/11) oleh pemimpin, direktur, dan pemimpin redaksi media seperti ABC News, BBC, CNN, Associated Press, Reuters dan New York Times, mendesak Israel segera memulihkan akses ke Gaza bagi wartawan internasional sesuai dengan komitmen Israel mengenai pers yang bebas.
Israel selama dua pekan terakhir ini memberlakukan penutupan hampir sepenuhnya terhadap Jalur Gaza dan hanya mengizinkan bantuan kemanusiaan mendasar melewati lintasan perbatasannya dengan wilayah itu, sebagai tanggapan atas serangan-serangan roket pejuang Palestina.
Jurubicara Olmert, Mark Regev, mengatakan, Israel tidak mengeluarkan larangan khusus bagi wartawan untuk memasuki Gaza namun mereka dicegah memasuki wilayah itu sebagai bagian dari kebijakan Israel yang hanya mengizinkan "bantuan kemanusiaan penting".
"Sikap kami jelas. Israel percaya akan kebebasan pers. Wartawan-wartawan Israel dan internasional yang bekerja di Israel sangat mengetahui bahwa mereka bisa bekerja dengan kebebasan penuh dan wartawan-wartawan Arab di negara tetangga hanya bisa iri pada independensi dan kebebasan media di Israel," katanya kepada DPA.
"Sayangnya karena pertempuran yang terus berlangsung, penyeberangan ke Gaza tidak bisa berjalan seperti biasanya dan banyak orang, termasuk wartawan, menjadi terganggu," katanya.
Ia menambahkan, Israel sedang bekerja dan berharap penyeberangan ke Gaza bisa segera berjalan seperti biasanya.
Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun lalu setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.
Sejak itu, wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah. Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.
Perdana Menteri Israel Ehud Olmert yang akan mengakhiri tugas telah memperingatkan mengenai konfrontasi yang akan segera terjadi dengan Hamas meski gencatan senjata yang ditengahi Mesir diberlakukan pada 19 Juni.
Bentrokan-bentrokan terakhir pekan lalu telah menewaskan sekitar 10 pejuang bersenjata Palestina, sehingga jumlah korban tewas menjadi sekitar 600 sejak Israel dan Palestina memulai lagi perundingan perdamaian 12 bulan lalu, sebagian besar dari mereka pejuang Gaza.
Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.[*/nng]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !