INILAH.COM, Jakarta Euforia kemenangan Barack Obama pada Pemilu AS lalu, ikut melanda Indonesia. Pasalnya, Obama pernah tingal di Jakarta. Padahal, saat kampanye Obama pernah menyatakan tidaklah terlalu senang dengan Indonesia.
Keberhasilan Obama memenangkan Pemilu Presiden Amerika Serikat, membuat banyak orang di Indonesia gembira dan bereuforia. Kegembiraan dan euforia itu didorong pandangan sejarah Obama. Dengan Obama pernah tinggal di Jakarta, Presiden AS itu pasti akan memberi perhatian khusus kepada Indonesia.
Pemerintahan AS dalam empat tahun mendatang akan lebih baik positif terhadap Indonesia. Akan ada manfaat yang bisa dipetik Indonesia dari hubungannya dengan AS. Indonesia akan menjadi salah satu negara terpenting dalam percaturan global politik luar negeri AS. Hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah hubungan kedua negara.
Cukup dimengerti mengapa ada harapan seperti itu. Sudah empat presiden yang memimpin Indonesia semenjak Soeharto lengser tahun 1998. Selama itu kebijakan Gedung Putih terhadap Indonesia dirasakan lebih banyak merugikan. Padahal demokratisasi di Indonesia berikut perubahan sistem politik, banyak dipicu advokasi yang dilakukan AS, baik melalui jalur resmi maupun organisasi non pemerintah yang dibiayai Washington.
Semenjak Soeharto lengser, keutuhan (Negara Kesatuan Republik Indonesia) menghadapi ancaman seperti yang dihadapi Uni Soviet. Gerakan-gerakan pro demokrasi bermunculan di berbagai propinsi yang kemudian berubah menjadi gerakan untuk memisahkan diri.
Akhirnya Uni Soviet bubar. Sejumlah propinsi menjadi negara merdeka dan yang tinggal adalah Rusia. Beberapa negara baru merdeka itu kemudian langsung mendapat pengakuan dan dukungan AS.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya situasi yang sama di Indonesia, juga ada. Sebab, seperti yang terungkap dari beberapa buku yang ditulis oleh peneliti di AS, tampilnya Soeharto ke puncak kekuasaan tahun 1966 tak lain karena dukungan Washington. Dukungan diawali oleh operasi intelejen.
Soeharto juga bisa bertahan di Istana Merdeka selama 32 tahun antara lain karena selama lebih dari tiga dekade kebijakan AS terhadap Indonesia mendukung pemimpin Orde Baru itu.
Jadi, kesimpulan sementara sekaligus bercampur kekhawatiran adalah AS bisa berbuat apa saja bagi Indonesia. Beberapa kebijakan AS yang dianggap merugikan Indonesia, misalnya, pemberlakuan embargo suku cadang peralatan militer, dukungan terhadap gerakan separatis di Papua, dan terakhir travel warning .
Embargo menyebabkan sejumlah pesawat tempur Indonesia tidak bisa dimaksimalkan. Padahal pesawat-pesawat tempur (F 16) tersebut dibeli mahal dari AS.
Itu sebabnya, embargo AS dinilai sebuah kebijakan yang sangat mengganggu hubungan dua negara. Untuk apa Indonesia membeli barang dengan harga mahal dari AS, tapi pada akhirnya barang tersebut tidak dapat digunakan?
Semenjak tragedi Bom Bali, Washington paling sering mengeluarkan Travel Warning. Gara-gara Travel Warning tersebut, Indonesia dicitrakan sebagai negara yang tidak aman. Dampaknya, sangat negatif bagi kehidupan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jumlah turis asing menurun.
Hal serupa terjadi di dunia investasi. Semakin banyak investor asing yang tak mau berinvestasi di Indonesia. Bahkan ada investor asing yang sudah masuk di Indonesia, kemudian secara diam-diam merelokasikan bisnisnya ke negara lain. Lapangan pekerjaan mengecil, sementara pengangguran bertambah. [Bersambung/I4]