INILAH.COM, Jakarta - Posisi rupiah kembali beralih ke level 12.000 per dolar AS. Kepanikan pasar terlihat semakin menjadi-jadi akibat bursa saham yang masih jatuh, baik di regional maupun global.
Peningkatan pengangguran AS yang menekan ekonomi negara Paman Sam ini juga sangat mengkhawatirkan para importir.
Dampak semakin memburuknya kondisi perekonomian global juga ikut mendorong mata uang Indonesia ini semakin tak berdaya. Para importir yang sudah mulai resah terhadap kondisi saat ini kembali menyerbu dolar untuk kepentingan bisnisnya. Seruan Menkeu Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur BI, Boediono tak mampu membuat masyarakat untuk segera melepas dolar miliknya.
Dolar banyak yang tersedot ke AS, yang saat ini memang mengalami kekurangan likuiditas yang sangat besar untuk membangun kembali sistem perekonomiannya. Perusahaan-perusahaan besar yang juga membutuhkan talangan likuiditas hingga saat ini juga masih menunggu nasib dari pemerintah AS.
Belum lagi resesi ekonomi yang sudah mulai menjalar ke Asia, termasuk Indonesia. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan hanyalah intervesi dari BI. Namun, sepertinya itu tidak mungkin dilakukan karena bisa mengekibatkan cadangan devisa semakin terkuras habis.
Para pelaku perbankan juga menyerukan diterapkannya blanket guarantee sebagai upaya untuk menghindari larinya dolar ke luar negeri. Diprediksikan jika pemerintah dan BI tidak segera mengambil langkah cepat untuk mengatasinya, rupiah bisa anjlok hingga ke level 15.000. Ini mungkin saja terjadi jika cadangan devisa sudah tak mampu lagi membendung kekurangan stok dolar yang ada di pasar saat ini. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !