Senin, 28 Mei 2012 | 13:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Jangan Euforia Berlebihan terhadap Obama (3-Habis)
Obama Terhina Dipanggil Negro
Headline
Barack Obama - istimewa
Oleh: Derek Manangka
web - Jumat, 21 November 2008 | 14:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Ada apa dengan Barack Obama? Apa yang salah? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia tak menerima telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meski hanya untuk waktu singkat selama lima menit saja?
Jawaban atas pertanyaan di atas kini mulai terkuak. Ada cerita yang mengingatkan peristiwa 'kecil' yang terjadi selama masa kampanye Presiden AS. Dari kejadian itu terungkap sebuah catatan pribadi Obama tatkala bersekolah di Jakarta.
Obama tidak bisa melupakan cara teman-teman sekolahnya di Jakarta yang memanggilnya dengan sebutan 'negro'! Panggilan itu dianggapnya sebagai sebuah penghinaan. Karena di AS sendiri istilah itu tidak digunakan sekalipun persoalan rasial pernah memanas di negara tersebut.
Yang lebih menyakitkan lagi, aku Obama, teman-teman sekolahnya ada yang suka mengejeknya dengan mengatakan: 'hey negro ganti kulitmu...'.
Cerita dan ledekan ini tentu saja bukan mewakili Indonesia sebagai sebuah negara. Cerita itu bagian dari kenakalan anak-anak. Setiap anak kecil pasti punya kelakuan buruk.
Tapi apapun alasannya, cerita masa kecil Obama di Jakarta itu, ternyata cukup membekas dalam hati dan pikirannya. Ceritera ini baru diungkapkan Obama kepada publik AS setelah lebih dari 30 tahun dipendamnya.
Obama membuka ceritera pahit itu tidak secara terencana. Melainkan dalam rangka menangkis tuduhan rivalnya di Partai Demokrat, Hillary Clinton, saat keduanya sedang bertarung menjadi nominasi calon presiden dari Partai Demokrat. Hillary Clinton yang mantan Ibu Negara AS, pada suatu kampanye berusaha menjatuhkan.
Obama dicitrakannya sebagai sosok yang tidak jelas asal-usulnya. Selain ayahnya berasal dari Kenya, salah satu negara miskin di Afrika, pada satu periode, Obama juga tinggal di sebuah negara miskin di Asia bernama Indonesia. Obama ke Indonesia ikut ayah tirinya yang pernah kuliah di Hawaii, AS.
Berbeda dengan cara publik di Indonesia yang menempatkan ayah tiri Obama, Sutoro sebagai sosok intelektual didikan Universitas Hawaii, oleh Hillary nama Sutoro justru tidak dikesankan demikian. Yang disoroti Hillary justru Indonesia.
Nama Indonesia sedemikian didramatisasi. Indonesia antara lain disebut Hillary sebagai salah satu negara tempat bermukim sejumlah musuh AS, khususnya yang terlibat dalam jaringan Al Qaeda. Sementara Al Qaeda di AS ditempatkan pada urutan teratas sebagai musuh utama bangsa.
Secara implisit dan politis Hillary menuding Obama mempunyai hubungan dengan musuh utama bangsa Amerika. Walaupun bukan Indonesia sebagai negara yang menjadi sasarannya, tetapi bagi publik AS, tudingan itu sudah cukup memberi peringatan bahwa orang yang pernah berada Indonesia, harus terus diwaspadai.
Pada saat serangan itu diangkat Hillary, berita tentang eksekusi tiga terpidana bom bali Amrozi dan kawan-kawan sedang hangat-hangatnya. Penundaan eksekusi terhadap tiga terpidana yang terjadi berkali-kali itu, bergaung sampai ke AS. Indonesia dicitrakan bukan sebagai 'negara sahabat'.
Berita itu menjadi salah satu komoditi politik yang ranum. Terutama berkaitan dengan tema Islam. Sementara agama yang dipeluk Obama pun apakah Islam atau Kristen-- termasuk isu yang hangat diperdebatkan.
Entah karena Obama terpancing oleh provokasi Hillary atau benar-benar memang punya rasa dendam terhadap teman sekolahnya di Indonesia, Obama akhirnya angkat bicara. Ia ungkapkan sisi negatif dari masa lalunya di Jakarta itu. Intinya, Obama justru punya kenangan pahit terhadap Indonesia dari pada sebaliknya. Bagi Obama, ingat Indonesia sama dengan mengingatkan kembali sebuah penghinaan.
Memuji dan berharap kepada Obama bukanlah sebuah tindakan yang salah. Yang perlu diperhatikan bahwa budaya dan sistem politik AS dan Indonesia sangat berbeda. Sistem politik di AS tidak ditentukan oleh pemikiran yang menggunakan standar pribadi.
Perhatikan platform yang dikemukakan para calon Presiden AS dari kedua partai: Demokrat dan Republik. Ketika mereka berbicara tentang politik luar negeri, yang menjadi prioritas justru bukan belahan Asia, apalagi Indonesia. Mereka lebih memprioritaskan persoalan Timur Tengah. Nama Indonesia bahkan boleh dibilang tidak pernah disebut!
Bahwa Indonesia tetap penting bagi AS tentu saja tidak mengada-ada. Hanya saja tidak dalam konteksnya dan cara memandang sebuah kekuasaan yang dibangun atas dasar KKN.
Dalam strategi global saat ini Indonesia tidak masuk dalam skala prioritas. Tingkat urgensinya jelas tidak sama dengan masalah Timur Tengah, Pakistan, dan Afghanistan. Bila ini kita sadari, euforia dan kegembiraan orang Indonesia terhadap Obama sebagai Pemimpin AS, tak akan keluar dari koridor. [Habis/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.