Rabu, 23 Mei 2012 | 22:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Holcim Siasati Gejolak Global
Headline
istimewa
Oleh: Ibrahimsyah
web - Jumat, 21 November 2008 | 15:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Produsen semen mulai menghitung cermat investasinya. Seperti PT Holcim Indonesia (SMCB) yang menunda merger anak usahanya namun tidak mengubah rencananya membangun pabrik semen baru untuk menggenjot kapasitas produksinya.
Corporate Communications Manager Holcim Indonesia Budi Primawan mengatakan, Holcim menunda pelaksanaan merger dengan PT Semen Dwima Agung, anak usaha dengan kepemilikan 100%. Penundaaan terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.
"Merger kita tunda. Tapi rencana lain seperti pembangunan pabrik semen berkapasitas 1,7 juta ton di Tuban masih jalan terus. Ini untuk keperluan di 2011 mendatang," papar Budi Primawan, di Jakarta, hari ini.
Semula Holcim akan merger dengan PT Semen Dwima Agung, produsen semen di Tuban, Jatim. Merger tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan pabrik baru di Tuban senilai US$ 500 juta.
SMCB mengatakan Semen Dwima Agung sebenarnya adalah anak usaha yang mayoritas sahamnya dikuasai perseroan. Namun, selama ini keduanya merupakan entitas yang terpisah.
Sementara pembangunan pabrik baru diproyeksikan dapat menggenjot kapasitas produksi Holcim dari 7,9 juta metrik ton per tahun menjadi 10,5 juta metrik ton per tahun pada 2011. Pembangunan pabrik berkapitas produksi 1,7 juta ton di Tuban itu rencananya akan menghabiskan dana US$ 525-600 juta.
Pada 23 September lalu, Holcim menyatakan tengah mengajukan pinjaman US$ 150 juta ke International Finance Corporation (IFC), anak usaha Bank Dunia. Pinjaman itu berpotensi ditingkatkan menjadi US$ 200 juta dengan memperhitungkan komitmen pinjaman dari sindikasi lembaga keuangan yang lain.
Pada 2009 Holcim akan menyiapkan belanja modal senilai Rp 130 miliar. Menurut Budi Primawan, hingga akhir triwulan III 2008 perseroan sudah menggunakan belanja modalnya hingga Rp 121,04 miliar.
"Perusahaan akan selalu berusaha mengatur belanja modal perseroan sebaik mungkin, terutama terkait dengan situasi perekonomian akhir-akhir ini. Perseroan tetap bersikap hati-hati dan tengah menelaah berbagai rencana ekspansi terkait dengan krisis global," paparnya.
Per September 2008 laba bersih Holcim naik 257,5% menjadi Rp 547 miliar dibanding periode sama sebelumnya Rp 153 miliar. Kenaikan laba bersih ini dipicu naiknya penjualan 26% menjadi Rp 3,441 triliun dibanding periode yang sama sebelumnya Rp 2,727 triliun.
Saat ini Holcim mengoperasikan dua pabrik semen masing-masing di Narogong, Jawa Barat dan di Cilacap, Jawa Tengah, dengan total kapasitas gabungan per tahun 7,9 juta ton klinker. Mayoritas sahamnya (77,33%) dikuasai Holderfin BV Ltd, anak perusahaan Holcim Ltd, yang berbasis di Swiss.
Sementara itu Trimegah Securities dalam risetnya baru-baru ini mengungkapkan, konsumsi semen nasional per Oktober 2008 tercatat tumbuh sekitar 14,4% mencapai 31,697 juta ton dari 27,707 juta ton per Oktober 2007.
Dalam periode yang sama, konsumsi semen di Jawa meningkat 10,9% dari Rp15,982 juta ton menjadi 17,716 juta ton, sedangkan di luar Jawa tarcatat naik 19,2% dari 11,725 juta ton menjadi 13,981 juta ton.
Dari konsumsi tersebut, PT Semen Gresik (SMGR) memberikan kontribusi 13,748 juta ton (43,37%), naik sekitar 11,5% dibanding per Oktober 2007 sebesar 12,335 juta ton.
Kontribusi PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) 10,229 juta ton (32,27%), tumbuh 20,4% dari 8,494 juta ton per Oktober 2007, dan PT Holcim Indonesia (SMCB) sebesar 4,501 juta ton (14,2%), naik 12,9% dari sebelumnya 3,988 juta ton.
Untuk wilayah Jawa, kontribusi Semen Gresik tumbuh 10,4% dari 5,977 juta ton mencapai 6,596 juta ton per Oktober 2008, Holcim naik sekitar 5% dari 3,512 juta ton menjadi 3,686 juta ton, sedangkan Indocement mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu 16% dari 6,223 juta ton menjadi 7,221 juta ton.
Untuk luar Jawa, kontribusi Semen Gresik terhadap konsumsi nasional per Oktober 2008 mencapai 7,152 juta ton,naik 12,5% dari 6,358 juta ton per Oktober 2007, dan Indocement mencatat pertumbuhan sebesar 32,5% dari 2,271 juta ton menjadi 3,008 juta ton.
Sedangkan Holcim Indonesia meski kontribusinya kecil dibandingkan dua emiten lainnya, namun mencatat pertumbuhan terbesar yaitu 71,2% dari 476 ribu ton menjadi 815 ribu ton.
Pada perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (21/11) saham SMCB dintransaksikan di level harga Rp 440 naik Rp 25 per lembar dibandingkan sehari sebelumnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.