INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (24/11) diperkirakan berada di kisaran 12.500-13.000 per dolar AS. Sentimen negatif sulit keluar dari pasar sehingga rupiah kembali terhambat. Aksi buru dolar AS masih belum selesai.
Pengamat valas Imanudin mengatakan, pergerakan rupiah saat ini masih terpengaruh situasi pasar domestik yang mengalami kekeringan likuditas dolar sehingga pasokan berkurang.
Rupiah saat ini sangat sensitive. Ketika ada sentimen negatif, rupiah akan langsung tertekan. "Rupiah pun sulit ke luar dari level 12.500-13.000 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, tipisnya pasokan dolar disebabkan karena hampir tidak ada investor yang mau melepaskan mata uang dolar. Pelaku pasar berekspektasi dolar akan menuju level 15-17 ribu per dolar AS.
Sedangkan harapan bahwa eksportir mau melepas dolar, juga sia-sia. "Masih terjadi flight to safety, dimana resesi panjang memicu investor mengalihkan investasi ke mata uang dolar AS," ujarnya.
Berkurangnya cadangan dolar juga ditambah aksi perbankan dan bank investasi AS yang menarik semua asetnya di emerging market. Ini mengindikasikan pembelian dolar AS di pasar luar negeri masih belum selesai.
Dolar pun masih akan menguat terhadap mata uang lainnya. Alhasil, intervensi BI di pasar valas hanya sebatas menahan rupiah, tidak untuk memperkuat posisi mata uang Indonesia tersebut.
Secara fundamental, analis Bank Niaga Iwan Gunandar mengatakan, saat terjadi penarikan dana keluar, nilai wajar rupiah adalah level 13 ribu per dolar AS. Iwan menjelaskan, sebenarnya sejak 2002 hingga 2007, investor masuk pasar saham menggunakan leveraging dolar, yaitu dibiayai dengan pinjaman murah.
Sehingga saat bank-bank AS kesulitan likuiditas, dana itu ditarik kembali. "Masuk akal kalau rupiah kembali ke level 13 ribu per dolar AS karena kenaikan aset-aset di Indonesia saat itu hanya ditopang dana-dana dari kredit murah," paparnya.
Saat dana murah masuk ke pasar saham beberapa tahun silam, IHSG melonjak dari kisaran 300 hingga mencapai level 2.800. Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup pesat.
"Seharusnya dari dulu disadari, bahwa dana ini berasal dari kredit murah. Sehingga, saat terjadi kondisi likuditas ketat, sudah bisa diantisipasi kalau dana itu akan ditarik lagi," tambahnya.
Saat ini dari total cadangan devisa, yang sudah terpakai untuk menahan kejatuhan nilai tukar mencapai 20%. Hal ini digunakan untuk menstabilkan rupiah dari level 8.500 hingga ke level tertingginya 13 ribu per dolar AS. "Ini adalah biaya yang cukup besar untuk menahan nilar tukar rupiah apalagi proses penyedotan dolar belum tuntas," ujarnya.
Namun Iwan mengatakan BI akan tetap konsistens dengan mulai masuk ke pasar melalui intervensinya di bank BUMN ketika rupiah sudah masuk ke level 13 ribu per dolar AS.
Kurs rupiah di pasar spot antar bank, Jakarta, Jumat (21/11) ditutup menguat 230 poin ke posisi 12.070 per dolar AS. Sedangkan rupiah atas dolar Singapura berada di level 7.834,93, atas mata uang gabungan negara Eropa di level 15.119,05 dan atas dolar Australia di level 7.515,60. [E1]