INILAH.COM, Jakarta - Ucapan petinggi CIA Clyde McAvoy yang mengaku telah merekrut Wapres Adam Malik sebagai agen seperti dituliskan Tim Weiner dalam bukunya 'Membongkar Kegagalan CIA', dinilai sebagai klaim sepihak CIA.
Hal ini dikatakan pengamat intelejen dan militer MT Arifin dalam perbincangan dengan INILAH.COM, di Jakarta, Senin (24/11). Menurutnya, hal itu klaim sepihak CIA dalam menyajikan laporan-laporan mereka.
"Konteksnya ketika itu adalah perang dingin. CIA punya kepentingan di Indonesia dalam menghadapi komunis. Pemerintah AS beranggapan orang-orang yang punya pemikiran sama dengan mereka dianggap sebagai agen. Padahal belum tentu orang yang dianggap agen itu merasa dirinya agen," papar Arifin.
Sosok Adam Malik, lanjut Arifin dianggap sebagai tokoh yang secara gigih menghadapi komunis. "CIA mendekati berbagai kalangan, seperti intelektual, politisi, dan seniman pada tahun 60-an," imbuhnya.
Sebagian besar mereka yang didekati adalah lulusan dari universitas-universitas di Amerika yang berpikiran liberal. "Itu langkah-langkah AS dan CIA membentuk jaringan meskipun mereka yang direkrut sebenarnya bukan agen organik," ujar Arifin.
Dalam struktur CIA, Arifin menyebut, ada agen yang sifatnya organik dan memiliki tugas atau misi khusus. Selain agen organik tersebut, CIA juga mengembangkan jaringan dengan mendekati tokoh-tokoh yang bisa diajak bekerja sama.
"Saya pikir Adam Malik itu agen, karena dia memang bukan agen CIA. Dia digunakan sebagai tokoh untuk membendung komunis. Adam Malik salah satu tokoh yang menghendaki pertumbuhan ekonomi dengan investasi dari barat saat itu. Andai saja memang ada kerjasama dengan AS konteksnya memang untuk pembangunan," pungkas Arifin.[dil]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !