inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Bush Kini Tinggal Sepahnya

Headline
George W Bush - istimewa
Oleh: Vina Ramitha
Senin, 24 November 2008 | 19:45 WIB
INILAH.COM, Lima Jauh sebelum pemilu AS pada 4 November lalu, sebenarnya popularitas Presiden Bush sudah menyentuh titik nadir, terutama setelah invasi ke Irak tak memberikan apa-apa bagi AS kecuali malu dan menelan lebih dari 4.200 prajurit yankee. Tapi bagaimana Bush di mata dunia?

Ternyata hasilnya idem. Ia tak lagi dianggap pahlawan seperti ketika menyeru penggalangan kekuatan untuk menyerbu Irak dan Afghanistan pasca-tragedi 11 September 2001. Apalagi ketika ekonomi Amerika ambruk akibat krisis keuangan, tak ada lagi yang mau 'menengok' ke Bush.
Bahkan, kekalahan telak capres Republik John McCain dari Barack Obama dalam pemilu lalu juga dipicu oleh ulah buruk Bush dalam mengelola perekonomian terbesar dunia itu.

Bukti kehancuran pamor Bush terlihat lagi ketika Presiden terpilih AS Barack Obama sedang sibuk mengambil kuda-kuda untuk menyelamatkan perekonomian dunia, suami Laura Bush itu juga sibuk memanfaatkan saat-saat terakhir untuk mengharumkan namanya kembali. Ia sibuk tampil pada pertemuan G-20 di Washington, dan terakhir dalam KTT APEC di Lima, Peru. Ia ingin seolah-olah sangat berarti dalam menggalang kekuatan dunia untuk mengatasi kekacauan yang justru akibat ulahnya sendiri.

Rakyat AS, atau mungkin dunia, kini sangat menantikan terbentuknya tim ekonomi Obama. Dan ketika mantan senator Illinois itu menunjuk Timothy Geithner, yang masih menjabat sebagai presiden The Fed New York, respons pasar amat positif. Terbukti indeks Dow Jones melonjak hampir 500 poin pada penutupan akhir pekan lalu.

Sementara di pertemuan APEC, Bush berusaha keras melakukan perbaikan atas 'buah karyanya' di perekonomian dunia, salah satunya masalah perdagangan bebas. Negara anggota APEC sepakat untuk mengirim mendag masing-masing ke Jenewa, Swiss, bulan depan. Rencananya, mereka akan membahas kelanjutan negosiasi Putaran Doha (Doha Round) yang digagas pada 2001 untuk menghapus berbagai hambatan perdagangan.

Para analis berharap Bush bisa menghasilkan sebuah perjanjian perdagangan sebelum ia keluar dari Gedung Putih. Terlihat dari usaha Bush di APEC ini, tampaknya ia ingin satu kemenangan terakhir, satu hal yang menunjukkan kerja keras dan keseriusannya untuk membenahi ekonomi.

Sayangnya, para pemimpin APEC malah menjadi dilematis. Mereka mengkhawatirkan cara Obama dan Bush itu berbeda dalam menangani ekonomi. Dukungan banyak berada di belakang Obama dan sebaliknya, Bush kini menjadi presiden AS yang paling tidak populer.

Kedua pertemuan itu memang menjadi pembangkit kepercayaan ketika dunia sedang menghadapi krisis ekonomi terburuk setelah Great Depression pada 1930-an. Banyak yang berharap pertemuan APEC lebih membawa pengaruh yang berarti ketimbang G-20. Apalagi pasar bursa sudah mulai menunjukkan berbagai reaksi positif beberapa waktu belakangan ini.

Berbagai kemajuan ini dipacu oleh Obama yang mulai melengkapi daftar pejabat penting di tim ekonominya. Belum lagi media yang ramai memberitakan beberapa outlineyang akan ia laksanakan di sektor ekonomi. Optimisme Bush di pertemuan APEC malah tak terlihat, sebab dunia masuk ke dalam euforia Obamanomics.

"Sudah jelas dalam hal ekonomi, ada pemindahan kekuasaan," ujar Mark Zandi, ekonom dari economy.com. "Semua orang kini menumpukan harapan mereka pada tim Obama, terutama mengenai apa yang akan dilakukan AS dalam menghadapi krisis global."

Seperti yang dilakukan oleh Presiden Roosevelt pada masa depresi hebat di masa lalu, rencana awal Obama adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Yakni dengan cara membangun infrakstruktur dan menciptakan sumber energi alternatif baru.

Senator Demokrat asal New York Charles Schumer dan mantan menteri tenaga kerja Robert Reich, yang menjadi anggota tim penasihat ekonomi Obama, mengusulkan sebuah paket stimulus. Jumlah yang mereka sebutkan berkisar antara US$ 500-US$700 juta. Lebih banyak US$ 175 juta ketimbang yang dibicarakan Obama ketika kampanye. Selain itu, juga ada beberapa rencana pemotongan pajak untuk keluarga AS yang mampu.

Jika sudah seperti itu, apa lagi yang akan dilakukan Bush untuk mengobati 'borok' Paman Sam, yang juga dirasakan di seluruh dunia. Waktu bagi Bush untuk memulihkan pamornya hanya tersisa kurang dari dua bulan, padahal dalam periode itu tak ada agenda penting lain yang dapat 'memoles' kinerja Bush.

Harapan terakhir, yaitu tercapainya perdamaian antara Palestina dan Israel, seperti yang ditargetkan Bush akhir tahun in, juga semakin tak jelas. Kedua pihak kini malah semakin asyik saling berbalas roket. Pendirian negara Palestina merdeka dengan ibukota Jerusalem, akan tetap menjadi angan-angan, seperti juga Bush berandai-andai namanya harum kembali seperti ketika memimpin sekutu menyerang Irak 2003 lalu. Sepertinya Bush harus siap keluar dari Gedung Putih dengan kepala tertunduk. Ini ibarat habis manis sepah dibuang.[tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.