INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah awal pekan ini kembali terpuruk. Fluktuasi mata uang lokal ini terus berlanjut karena ketatnya likuiditas dolar AS di pasar valas. Namun tekanan sedikit berkurang seiring sentimen positif komitmen pinjaman luar negeri.
Kurs rupiah di pasar spot antar bank, Senin (24/11) ditutup melemah 250 poin ke posisi 12.320 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di 12.070.
Direktur Retail Banking Bank Mega Kostaman Thayib mengatakan, tekanan pasar terhadap rupiah masih tinggi. Namun sebenarnya kondisi rupiah saat ini lebih menguntungkan, terkait isu positif tentang pinjaman dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Agence Francaise de Development (AFD) Perancis.
"Rupiah akan terpuruk lebih dalam apabila tidak ada kedua isu tersebut," katanya di Jakarta, Senin (24/11). ADB berencana memberikan pinjaman US$ 500 juta kepada Indonesia melalui skema multitrance finance facility (MFF) untuk membiayai proyek infrastruktur.
Sementara AFD akan memberi pinjaman sebesar US$ 200 juta dalam rangka Climate Change Program Loan yang akan digunakan untuk mendukung rencana kerja nasional mengatasi perubahan iklim.
Lebih lanjut ia mengatakan, terpuruknya rupiah disebabkan tingginya kebutuhan dolar AS menjelang akhir tahun. Investor mempersiapkan diri untuk menyambut liburan ke luar negeri.
Selain itu juga ada kepentingan korporasi untuk membayar utang yang telah jatuh tempo. "Sehingga keterpurukan rupiah saat ini masih dinilai wajar mengingat kebutuhan dolar AS cenderung meningkat," timpalnya.
Kostaman menambahkan, pemerintah saat ini belum mempersiapkan diri menghadapi tekanan pasar terhadap kebutuhan dolar AS yang makin besar. Ia pun menyarankan agar
BI bekerja sama dengan bank sentral lain dalam upaya memasok dolar AS ke pasar.
"Hal ini diharapkan dapat meminimalkan kebutuhan dolar AS yang meningkat," ulasnya.
Dana warga negara Indonesia yang parkir di luar negeri, imbuhnya, juga harus di monitor dan mengajak mereka kembali ke tanah air untuk mengurangi tekanan pasar terhadap rupiah. "Apabila ini berjalan, tekanan terhadap rupiah akan berkurang, dan membaiknya krisis keuangan global akan memicu rupiah bergerak naik," paparnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah ternyata telah membuat DPR menjadi gerah. Mereka meminta pemerintah dan BI mengambil langkah-langkah yang agresif untuk mencegah terpuruknya rupiah lebih lanjut.
"Keputusan yang sangat bijak bila pemerintah berani menerapkan penjaminan secara penuh dana nasabah bank. Hal ini akan menciptakan rasa aman dan tenang sehingga masyarakat tidak perlu menyimpan uangnya di luar negeri," jelas Ketua DPR Agung Laksono.
Sejumlah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia sudah terlebih dahulu menerapkan kebijakan ini. DPR pun berharap kebijakan blanket guarantee bisa mengembalikan dana-dana yang diparkir di luar negeri. "Dengan kebijakan ini maka dana yang diparkir di luar negeri, akan kembali ke Indonesia," tambahnya.
Selain itu, imbuh Agung, arsitektur ekonomi dunia saat ini perlu mengalami perubahan dari sistem devisa bebas menjadi devisa terkendali. "Sehingga lalu lintas valas bisa diawasi," tandasnya.
Sore ini, posisi rupiah terpantau berada di level 7.869,13 atas dolar Singapura. di level 15.172,50 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.556,56 atas dolar Australia. [E1]